Halaman

Tampilkan postingan dengan label Experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Experience. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Agustus 2017

Mengapa harus soal uang?

Di siang hari yang terik, tidak sengaja aku bertemu dengan saudara jauh di salah satu pusat perbelanjaan. Mengikuti adat budaya timur, sebagai yang lebih muda, aku menyapanya atas dasar rasa hormat. Tante itu agak kaget, tidak menyangka bertemu denganku. 


Dia membalas sapaanku lalu bertanya, 

X : Wah sudah mau lulus ya, mau ambil spesialis apa? 

Me : belum tau tante

X : ambil spesialis xxxx aja uangnya banyak banget. Cuma omong bentar bayarannya mahal

Me : -_- (pura-pura tersenyum) 


Jujur hati kecil saya marah mendengar kata-kata itu. Otak saya berusaha melakukan rasionalisasi, "Apa hanya saya yang kurang suka mendengar pernyataan itu?", atau saya yang terlalu sensitif 


Memilih jurusan spesialis ibarat mengikuti passion dan kata hati. Perjuangan sekolah dokter saja sudah berat, percayalah sekolah spesialis jauh lebih berat. Setidaknya itulah yang dapat saya simpulkan dari pengalaman dua tahun menjadi dokter muda. Datang sebelum subuh, pulang setelah mahgrib, jaga 3x seminggu (sering kali lebih) , tugas yang berjibun hingga mengorbankan waktu untuk diri sendiri maupun keluarga. Tidak ada jatah cuti, jatah sakit, libur semester. Dan satu lagi, tidak ada hari libur! Tanggal merah dan hari raya tetap masuk lebih-lebih untuk junior. Belum lagi panggilan cito yang bisa datang kapan saja dan tidak kenal waktu. 

Perjuangan yang butuh kerja keras, kesabaran, komitmen, dan PASSION. Jelas bukan sesuatu yang bisa diputuskan karena soal uang. 


Saya lahir di keluarga dengan background ekonomi, menjadi dokter adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya. Sungguh sedih rasanya ketika melihat mama papa sakit, tetapi tidak ada yang bisa saya perbuat. Keluarga saya  buta dengan dunia kesehatan, setiap sakit akan selalu dilanda kebingungan. Saya juga mempunyai daftar panjang riwayat penyakit keluarga dari hipertensi, diabetes, penyakit jantung, glaukoma, hingga stroke. Dengan saya menjadi dokter, saya ingin membuka wawasan saya dan keluarga tentang dunia medis. Cita-cita saya bisa membantu orang lain mulai dari keluarga terdekat hingga masyarakat (amin) untuk mengedukasi dan semoga bisa memberikan terapi yang paripurna


Salahkah saya tersinggung jika ada yang berkata menjadi dokter demi uang? 

Saya pernah bilang ke orang tua saya,  saya ingin jadi kaya (amin) , tetapi bukan dari profesi dokter. Biarlah profesi ini menjadi sarana untuk memenuhi rasa haus saya akan dunia medis, membantu meluruskan persepsi orang tentang mitos kesehatan yang tidak benar, dan melihat lebih banyak orang tersenyum.  


Bukan berarti saya tidak ingin dibayar. Semua hal di abad 21 membutuhkan uang termasuk  dokter yang butuh uang untuk hidup layak seperti profesi lain. Yang saya inginkan, nantinya jasa saya tidak memberatkan pasien, cukup sesuai kemampuan finansialnya. 


Karena dokter dan bisnis adalah dua dunia yang sangat berbeda. 

Jelas dari awal harus ada tembok pembatas di antara mereka

Jumat, 09 Desember 2016

My Body Journey, Don't Let the Bad Genes Stopping You

Hello again! How are you? Hope your day is good :) . Now i want to share about my journey in learning thing that i was not good at, sport. Up and Down. 

I often hear that genetic is just about 1% to determine our success. In other side, i strongly believe that good gene make the process a lot easier. Unfortunately, i don't have good gene in body flexibility. My body was so stiff . My school friends know exactly how bad i was in almost all sports. I struggled harder than anybody else but i got failed. At that time, i passed in sport just because of my teacher's mercy. On the other hand, my academic was above average. I couldn't remember how many times "people" judged me regarding the imbalance between my academic and non academic field.  I understood the point of their tought, but please i also didn't want it. I thought that everything was out of my control. In high shool i often imagined how beautiful the college life will be, there's no sport subject anymore. I will never feel as this bad. 


When i was in the third year at the college, my weight increased significantly. It was a big trouble for me, then i decided to go to gym for the first time in my life. I tried many machines and classes, aerobic, body pump, zumba class, weight lifting.  I fall in love with yoga and pilates although the fact that my body was not flexible at all. To get more focused, i moved to yoga & pilates centre. At that time, i was the student with the most inflexible body. I often did the wrong pose. My teachers are very detailed and attentive. They know when i do  wrong , even just a little. Pilates and yoga are sports that focused on the breath. Once we don't breath, we won't be able to do the right pose. Both of them also require the strong abdmonial muscle, unless our  spinal column will get injured. Many of my classmates that joined later than me able to do the right pose faster. I felt so sad, luckly my teacher always remind me that yoga/pilates is not about competition. We do it for our own health and wellness.  I learn to do the right pose day by day. 

Time flies, it has been 1,5 years. Honestly, i often got lazy in the beginning, but time makes me become addicted. I am happy with my body progress. Yeahh, It is slow but sure. Anyway , i am still just an amateur (that's why i don't post the photo of me, hehe) . It is not easy to manage the schedule since as the coass,  i also work in the night shift 1-2x in a week beside the usual working hours (monday-friday) . But, i love to challenge my self. I am satisfied when i can  manage my time as  productive as possible. And you know what's the happiest thing?  Finally i can do pose that i was not able to do in the high school. 
Genetic is important. But don't let the bad genes stopping you to do the amazing things in your life, to do things that you love. Your life is yours. If the talented person can do perfectly by one try, we need to exercise more often. Again, it doesn't mean we can not. It is only a matter of time.

Exercise  is very good for our health.  I am writing to invite you to exercise , especially for you who doesn't have natural talent like me. You are not alone, many people are not blessed with flexible body. All you need is to find the strong reason to fight your laziness. Then keep doing exercise until you find something is going wrong when you don't. We don't need to be number one, also  don't to need to compare ourself to others. The only ideal competitor is ourself in past. 

Sabtu, 01 Oktober 2016

Hati Pasien Psikotik

Sinar matahari pagi menembus gorden, berusaha membangunkan penghuninya. Aku terbangun kaget, "oh sudah jam setengah 7", keluhku dalam hati, yang berarti alarm sudah aku snooze sebanyak tiga kali. Dengan masih menahan ngantuk , aku melangkahkan kaki mengambil handuk dan melakukan rutinitas pagi. Sadar sudah terlambat, aku mempercepat setiap gerakanku.

Kegiatan di poli berjalan seperti biasa, nyaris tidak ada yang spesial. Poli yang sempit dengan ruang tunggu padat  pasien yang mencari secercah harapan. Kemudian pasien wanita berusia sekitar 30an. Dia mengenakan terusan bunga-bunga dengan jilbab yang dililitkan di lehernya. Wajahnya nampak cemas dan bingung, tapi masih jelas terpancar kecantikannya. Namanya ibu devi. Ibu devi pun naik ke kasur pemeriksaan khusus kandungan dan diperiksa oleh supervisor. Kursinya didesain khusus untuk memudahkan pemeriksaan pada area intim wanita, dengan 2 tatakan besi di kanan kiri untuk meletakkan kaki pasien. Ibu devi tampak kesakitan, menangis, dan sangat tidak kooperatif. 

Oh ini toh yang dibilang si candra barusan saat aku ke ruang sebelah menanyakan kina. "Lohh si kina mana can?" "Itu tuh doi lg anamnesa pasien skizofrenia", sambil menunjuk keluar ruangan. "Dari tadi ga balik-balik", lanjutnya lagi. 


Sedikit saya akan membahas tentang skizofrenia. Skizofrenia , maaf bahasa awamnya adalah gila, walaupun istilah "gila" sudah tidak diperbolehkan lagi karena identik dengan stigma yang memojokkan penderita. Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis dengan durasi lebih dari satu bulan, yang ditandai adanya hendaya(gangguan.red) dalam menilai realita atau psikotik. Ada mitos-mitos yang menyebutkan skizofrenia adalah penyakit kutukan, penyakit akibat guna-guna, turunan , dll. Perlu ditekankan disini, hal tersebut adalah tidak benar. Sungguh disayangkan banyak penderita skizofrenia yang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya, mereka dibawa ke pengobatan alternatif, minum air suci, jamu-jamuan yang belum jelas bukti ilmiah nya. 

Penyebabnya multifaktorial, mulai dari genetik, neurokimiawi di otak, pola asuh, malnutrisi, stresor yang berat hingga penggunaan NAPZA. Kembali mengingatkan, genetik bukan berarti keturunan yang mengikuti hukum mendel (misal pada buta warna) . Peran genetik ini didasarkan pada bukti epidemiologis, bila salah satu orang tua skizofrenia, kemungkinan anaknya menderita skizofrenia sebesar 10-20%. Skizofrenia juga dikaitkan dengan hiperaktivitas dopaminergik dan serotonergik yang merupkan tempat kerja dari sebagian besar obat-obat psikotropika. Kelemahan ego (mekanisme diri dalam menghadapi masalah) tertentu juga mrupakan cikal bakal skizofrenia. Mekanisme pembelaan ego proyeksi, Impuls internal yang tidak dapat diterima ditanggapi seakan-akan berasal dari luar diri. Misal tidak lulus ujian karena beranggapan guru tidak suka dengannya dan memberi nilai jelek. Atau kalah dalam kompetisi karena sedang sakit. Gampangannya ini merupakan cerminan orang-orang yang suka mencari alasan. Hal ini menimbulan waham paranoid dan menyebabkan skizofrenia paranoid. Ciri kepribadian tertentu, seperti paranoid, skizoid(suka menyendiri , tidak suka bergaul) juga merupakan faktor risiko dari skizofrenia. Sungguh multifaktorial bukan?

Oke balik lagi ke cerita tadi ya.
Supervisor poli lalu meminta untuk dilakukan biopsi karena dicurigai kanker leher rahim. Biopsi merupakan prosedur pengambilan jaringan. Dengan cepat saya langsung meminta ijin untuk melakukan biopsi ke ppds, "Dok, boleh saya yang biopsi?" , kata saya penuh harap. Senior saya (PPDS , mereka yang sedang menempuh sekolah spesialis) menjawab iba, "maaf ya dik, ini pasiennya tidak kooperatif, tadi kata perawatnya sempet teriak marah-marah, padahal kalau enggak saya pingin lo ngasi ke kamu", ujarnya merasa kasihan denganku. 
Jika anda tertarik membaca mengenai pencegahan kanker serviks/leher rahim, dapat mengunjungi link : http://renesie.blogspot.co.id/2013/11/vaksin-cegah-kanker-servix-perlukah.html

Dokternya lalu mengedukasi ibu devi , "Bu, nanti saya masukkan alat, ibu nya jangan gelisah ya, kalau gelisah malah bahaya bisa berdarah-darah", ujarnya.
"Ya gimana ya dok kalau sakit", ujarnya dengan ekspresi datar.
Dokter : "ya harus ditahan bu biar tidak berdarah"
ibu devi : "saya kan susah dok nahan rasa sakit", tetap kekeh tidak mau diperiksa
Dokter : "ditahan aja bu"
Beliau pun dengan cekatan memasuki alat untuk memeriksa leher rahim. Alatnya ada yang terbuat dari besi / plastik, ukurannya cukup besar, diameter sekitar 7,  orang normal pun juga pasti merasakan sakit. Saat dokter ppds memasukkan alatnya, pasiennya tampak tegang, sehingga alatnya tidak bisa masuk. 

Kemudian dokter nya memberi isyarat ke saya untuk menenangi pasiennya
Saya : "Bu yang tenang ya jangan ditahan, ibu nya relaks aja, tarik nafas buang nafas" , saya pun jadi ikut-ikutan tarik nafas buang nafas untuk memberi contoh
Ibu : "Tapi sakit dok, ini saya diperiksa untuk apa"
Saya : "Biar tau penyakitnya ibu bu, katanya kan ibu pendarahan ya? Ibu mau sembuh kan? ", kataku bertanya meminta persetujuan
Ibu : " Iya dok sudah lama, dulu saya tidak mau berobat karena suami saya jahat", kali ini ekspresi mukanya sedikit berubah
Dokter : "Jahat kenapa bu? ", beliau menimpali saat melakukan pemeriksaan secara seksama
Ibu : " Iya dia tidak pulang-pulang dok, tapi sekarang saya mau berobat dok, saya berobat untuk saya, saya takut berdarah-darah"
Saya : "Iya bu makanya ini diperiksa dulu ya, biar tau penyakitnya, biar ngobatinnya bener, ibu mau sembuh kan?", bujukku lagi
Ibu : "Iya dok saya mau sembuh, ini saya kena guna-guna dok. Ada orang yang tidak seneng dengan saya, saya tahu dok, dia sudah lama tidak suka dengan saya", ceritanya seperti anak-anak dengan ekspresi yang datar 

Disini saya bisa melihat sifat kekanak-kanakan yang merupakan kemunduran mental yang merupakan salah satu ciri dari psikotik. Tampak juga waham paranoid/curiga

Saya : " Iya bu makanya nanti ibu tenang ya biar bisa ga berdarah-darah lagi"
Ibu : "Iya dok gak apa-apa, saya mau dok, saya mau sembuh."

Dokter ppds mengambil jaringan leher rahim pasien dengan menggunakan alat, dijepit dan ditarik, yang sudah pasti sakit. Untungnya,  ibu devi sudah  tenang, sehingga pemeriksaan berjalan dengan lancar
Saya : "Sudah ya bu sudah selesai, wah ibunya pinter", ujarku memberi pujian
Dokter : " Dik kamu edukasi dia sejam lagi kesini lepas kasa, ini keluarganya mana sih"
Saya : " Ibu, sekarang dipasang kasa biar ga berdarah. Nanti sejam lagi kesini lagi ya lepas kasa. Nanti ketemu saya lagi" Saya lalu menunjukkan arloji tangan saya , "ini jam berapa bu?"
Ibu devi :"Jam setengah 12."
Saya : "Jadi sejam lagi ibu ketemu saya jam berapa? Ibu bawa jam gak?" 
Ibu : " Gak bawa dok, jadi jam setengah satu ketemu dokter"
saya : " Sipp bu , sejam lagi jangan lupa ya ketemu saya lagi, sudah bu celananya boleh dipakai"

Suaminya (pak ali) pun muncul . Beliau tampak lebih pendek dari si ibu, berkumis , kulit sawo matang dan wajah tegang. Pak ali membuka pintu dengan agak kasar

Dokter : "Nanti sejam lagi kesini lepas kasa ya pak."
Pak ali : "Lepas kasa apa dok?", tanyanya dengan lantang
Dokter : "Ini tadi saya ambil jaringannya , biar ga berdarah-darah saya kasi kasa"
Pak ali : "Lo? Setelah diambil kasa ga berdarah kan?", dengan nada lebih tinggi , berharap prosedur tadi bisa menghentikan pendarahan
Dokter : "Iya tetep berdarah pak, kan penyakitnya belum sembuh"
Pak ali : "Sejam lagi ya dok? Jam berapa?"
Ibu devi : "Jam setengah satu mas sejam lagi ( dia tampak kesal dengan suaminya yang tidak mengerti ucapan sejam lagi, haha)"

Sekedar informasi, sebagian besar penderita skizofrenia tidak mengalami kemunduran intelektual.

Pak ali : "Dok ini hasilnya kapan jadi?"
Dokter : "Seminggu lagi ya pak"
Pak ali :"Kok lama banget ya dok? Gak bisa lebih cepat?", protesnya dengan nada kesal

###

Tidak sampai 15 menit, seorang perawat poli, ibu sitha masuk ke kamar pemeriksaan. "Dok, ini pasiennya gelisah, konsulkan psikiatri , saya hubungin ya, nyerah saya"
Dokter: "Boleh banget bu, monggo monggo (silahkan.red) dikonsulin"
Perawat itu lalu keluar

Empat puluh menit kemudian si suami dan pasien datang, dan kebetulan ibu sitha ada di dalam.

Perawat : "Ngapain masuk lagi?"
Suami  : "Katanya lepas kasa"
Ibu devi :"Saya disuru kesini sejam lagi lepas kasa sama dokter yang itu", sambil senyum ke arah saya
Perawat : "Wes wes belum sejam, tunggu di luar dulu"

Selang waktu berlalu, saya keluar ruangan untuk sekedar melihat suasana ruang sebelah. Baru saja membuka pintu, saya sudah dikagetkan dengan suara dari Perawat, Ibu sitha

Perawat : "Mbak dm itu kasi tau pasiennya mau dikonsulin psikiatri", ucapnya
Pasien tampak marah dan masuk ke ruang yang lain

Saya mengikuti masuk ke ruang itu
Saya : "Halo ibu, gimana bu?", sambil menahan jarak ke Ibu devi, kali-kali dia lagi agresif. Di luar dugaan, ibu devi malah menjawab pertanyaan saya layaknya tidak ada sesuatu yang terjadi "Hehehe, gak apa apa dok, belum diambil ya kasanya?"
Saya : "Bu, nanti ibu ngomong-ngomong dulu ya sama dokter di sebelah, abis itu baruu saya lepas kasanya. Ibu disini aja dulu tidur-tiduran gak apa-apa"
Ibu devi : "Iya dok, saya disini ya dok", ucapnya tersenyum
Saya : "Nanti ibu dicari kesini, jangan kemana-mana ya ibu cantik"

Kemudian saya mengajak bicara keluarganya. Ternyata pasien juga didampingi oleh ibu, anak, kakak pasien, dan beberapa keluarganya lagi.
Dan saya kaget, ternyata mereka belum tahu bahwa ibu devi akan dikonsulkan ke bagian psikiatri

Ibu pasien : "Saya gak ada dikasi tau dok, ini tadi ibu devi abis marah-marah sama ibu itu"
(Keluarga berdiri berjejer  mendengarkan dengan seksama)
Saya : "Lo kenapa bu?"
Ibu pasien : "Iya dia kasar sekali, terus mau pinjam kursi roda disuruh bayar"
Saya : Mmm (mengangguk-angg), "iya bu jadi ini kita konsulkan dulu ke dokter jiwa ya bu. Ini kan penyakitnya ibu ada 2, penyakit kandungan dan penyakit jiwa. Yang kami takutkan penyakit jiwanya menghambat pengobatan penyakit kandungannya, kan kita maunya pengobatannya biar optimal bu"
Ibu : "Makasj makasi dok, ini ibu devi baru 2 hari dok ngacau2 begini"

Saya kaget, karena batas skizofrenia adalah 4 minggu. Jadi kemungkinan pasien ini masih psikotik akut yang prognosisnya jauh lebih baik dari pada skizofrenia. Setelah itu saya menjelaskan prognosis dari gejala psikotik akut yang diderita pasien, yang terbagi menjadi 3 macam, sembuh sempurna, berlanjut menjadi kronik, atau sembuh dengan gejala sisa. Kami juga berbincang-bincang mengenai kanker leher rahim, rencana terapi kami,  dan prosedur biopsi yang memang membutuhkan waktu lama untuk meluruskan pandangan suami pasien.

Lalu kami masuk lagi ke ruangan, dan ibu devi terlihat membaca doa
Ibu devi : "Ehh ada dokter cantik, saya lagi sholat dok, kan sekarang lagi sakit supaya dibantu sama gusti allah"
Keluarga pasien : " Bilangnya lagi belajar sholat gitu lo"
Ibu devi : "Hehe iya dok belajar sholat, saya berdarah-darah , harus dekat dengan Allah ya dok biar dapat kesembuhan"
Saya : "Iya bener bu, doa juga penting ya biar dibantu sama yang diatas. Apalagi ini sudah waktunya sholat"
Ibu devi : "Iya dok, sekarang sudah dzuhur. Dokter habis ini kasanya dilepas?"
Keluarga pasien : "Udah jangan diajak ngomong terus , dokternya sibuk", keluarga pasiennya sepertinya sungkan denganku
Saya : "Hehe, gak apa apa bu. Iya nanti setelah omong-omong sama dokter sebelah baru dilepas kasanya ya. Monggo dilanjutin lagi ya bu sholat  nya"
Ibu devi :" Makasi banyak dok"

Selesai dikonsulkan ke psikiatri, saya lalu melepas kasa pasiennya, tentu saja pasiennya kooperatif.  Ibu , kakak dan anak-anak pasien kompak mengucapkan terima kasih, " Terima kasih banyak dokter sudah ditolong, semoga allah yang balas kebaikan dokter" . Padahal saya tidak melakukan hal yang berarti untuk ibu devi. Penyakitnya masih ada, tetap sama. 

Walaupun awalnya sedih karena tidak dapat mencoba melakukan tetapi aku belajar banyak tentang kehidupan dan rasa syukur. Sungguh berat beban yang diderita ibu tersebut, menderita kanker leher rahim  di usia yang masih tergolong muda. Aku teringat dengan kata-kata sewaktu menjalani stase psikiatri, "Masalahmu tidak ada apa-apanya dibandingkan masalah pasien kita. Kita mungkin berpikir mereka menderita gangguan jiwa karena kepribadian yang lemah, tetapi ketahuilah masalah mereka sangat berat , yang mungkin kita juga tidak siap untuk menanggungnya". 

Ya, kata-kata tersebut benar adanya. Masalah yang saya tahu hanyalah  kanker leher rahim, sangat mungkin ada masalah lain yang lebih berat . Tak ada satupun orang yang bisa terlepas dari masalah yang merupakan seni kehidupan. Tetapi selagi kita mampu, bantulah mereka yang mempunyai masalah yang lebih besar dari kita, sekecil apapun itu.

Penderita psikotik tidak sadar diri mereka sakit. Kadang mereka bicara melantur, mengamuk, bertingkah aneh, atau bahkan menimbulkan kekacauan yang fatal. Waspada dan hati-hati diperlukan tanpa menghilangkan empati. Bagaimanapun, mereka juga makhluk ciptaanNya yang mempunyai jiwa yang utuh. 

Dari beberapa episode flarenya, pasti ada celah dimana kita bisa diterima. Tentu hal ini membutuhkan usaha berkali-kali. 
Hati mereka yang keras dan dingin sejatinya haus akan kasih sayang dan perhatian.

NB : Tulisan ini saya dedikasikan untuk sanak keluarga dan orang-orang terdekat pasien psikotik. Psikotik bisa dikendalikan atau disembuhkan pada tahap akut (kurang dari satu bulan) dengan terapi obat-obatan, konseling dan juga support dari orang-orang terdekat. Memasung, mengurung pasien dalam ruang yang sempit semata-mata supaya tidak berbahaya bagi lingkungan merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Pada tahap yang tidak bisa dikontrol, penyakit puluhan tahun dengan periode flare yang sering (kumat) , pasien bisa dirawatinapkan di rumah sakit jiwa atau menjalani rehabilitasi di panti-panti khusus. Biarkanlah mereka bahagia dan menikmati dunia dengan cara mereka sendiri. Jika ada hal yang ingin anda sharing, saya bisa dihubungi melalui email : irenesienatra@gmail.com 

With love,

Renesie

Kamis, 17 Maret 2016

Karmaku Telah Berbuah

Pernah tidak merasa takdir seolah tidak adil? Ketika hal buruk menimpa kita dan menjadi yang paling salah? Sekelumit gundah gelisah yang kurasa kemarin. Aku tidak akan cerita disini, karna kuyakin menceritakan kisah itu takkan membuatku merasa lebih baik dan juga tidak membawa efek positif padamu. Tapi aku akan menulisnya dari sudut pandang yang berbeda.

Aku hanyalah gadis biasa , yang tidak cukup tegar menghadapi ini semua. Untuk pertama kali dalam belasan tahun terakhir, aku menangis keras di depan umum. Jika kuingat sekarang, aku merasa geli sendiri. Penyesalan menyapaku dari masa lalu, mengejekku dengan cemohannya. Oh penyesalan, mengapa kau tidak bosan-bosannya menghampiriku? Aku marah pada orang itu, pada orang lain, dan pada diriku sendiri. Kemarahan yang membuat segalanya lebih runyam.

Aku tidur dengan nyenyak malam tanpa mimpi.  Bangun tanpa dering alarm di pagi hari dan ajaibnya, merasa jauh lebih baik. Ku melangkah ke dapur, mengambil 2 sendok teh bubuk kopi, dan mulai meracik kopi kesukaanku. Seteguk demi teguk dan aku mulai merasa hal yang berbeda, oh tidak aku membuatnya dengan air es. Pantas saja aneh. Setelah menyelesaikan sarapanku, hatiku terpanggil untuk berdoa lebih pagi dari biasanya. 

Aku mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskan dengan pelahan. Berusaha memusatkan pikiran pada pola nafas.  Nadiku lambat laun berirama lebih teratur dan melambat. Kedamaian datang padaku , terasa begitu dekat seolah duduk di sampingku. Aku merasa lebih legawa dan pasrah. Seketika aku ingat tentang hukum karma, ini terjadi bukan merupakan kebetulan ataupun  akibat yang muncul dengan sendirinya. Tentu juga bukan nasib buruk. Sesuatu terjadi saling bergantungan antara sebab dan akibat. Tidak ada akibat yang mendahului sebab. Karmaku telah berbuah. Mungkin dulu, entah di kehidupan sekarang atau masa silam , aku pernah menabur benih yang tidak baik, merawat benih-benih itu dengan hati yang belum bersih, dan kini buah pahitlah yang harus kupetik.

Oh Guru Agung,
Aku sadar membenci  balik hanya akan menyiksa diriku sendiri, jelas bukan pilihan yang bijak.
Ingatkanlah aku untuk selalu tetap mengikuti ajaranmu, yang senantiasa mengajarkan untuk memadamkan api kebencian dan kemarahan kepada siapapun juga

Oh Tuhanku,
Peluklah aku erat erat dalam kasihmu. Sinarkanlah hatiku dengan cahayamu yang suci dan penuh kedamaian. Bantulah aku ikhlas memakan buah karmaku, tanpa banyak mengeluh. Sadarkanlah aku untuk tetap berbuat baik dan menanam kebajikan seberapa pahit buah yang harus kumakan.

Buah karmaku telang matang, akulah yang harus mencicipi, mengolahnya sendiri dan menghabiskannya. Ia menjadi pahit bukan karena orang lain yang memberinya racun, tapi karena hasil perbuatanku sendiri. Aku sadar musuh terbesar adalah diriku sendiri yang masih menyimpan sedikit rasa benci. Tetapi aku berjanji untuk berusaha dengan keras menghapusnya.  Mungkin aku belum sanggup untuk mendoakanmu bahagia, tapi sungguh aku tidak pernah berharap sesuatu yang buruk terjadi padamu. 

Oh Tuhan,  
Bangunkanlah aku ketika nanti aku mulai lelah untuk bangkit. Ingatkanlah aku untuk selalu bersemangat berubah menjadi
 pribadi yang lebih baik. Aku tak pernah ragu akan kasihMu, ajaran mulia Sang Guru Agung dan kehebatan Alam Semesta.


"Karena tak boleh ada air mata yang tidak menghasikan cipta, sekecil apapun itu", -renesie.

Thank you for reading



Sabtu, 26 Desember 2015

Don't Judge Yourself

"Nessie, kamu punya bakat di bidang art yang sangat tinggi", jelas Ms. Yessica dengan suara yakin. Sontak saja, aku tidak mampu menyembunyikan wajah kagetku mendengar hal yang menurutku mustahil. Mungkin benar kata orang, psikolog yang handal mampu menilai orang dalam hitungan detik, beliau langsung memberiku isyarat untuk mengungkapkan isi pikiranku. Melihat isyarat itu, aku pun dengan cepat menyatakan ketidaksetujuanku , "Bagaimana mungkin Miss, saya tidak bisa menyanyi, menari, bermain musik, ataupun menggambar". Begitulah kira-kira aku mendefinisikan bakat seni, setidaknya orang yang berbakat bisa melakukan salah satunya dengan indah. Sekelumit memori masa kecilku kembali berputar dengan cepat. Aku tidak pernah melakukan satupun dengan indah dan memukau. "Jadi sudah jelas , aku adalah kriteria ekslusi", batinku dalam hati.

Aku dilahirkan sekitar 22 tahun yang lalu, di sebuah kota kecil di pulau dewata, Tabanan Bali, sebelah barat denpasar. Kota yang menurutku ideal untuk menikmati kehidupan yang seimbang,  tidak terlalu bising seperti kota besar, tetapi juga mempunyai akses yang mudah menuju ibu kota provinsi. Beberapa belas tahun yang lalu, kota itu masih sangat asri, pohon-pohon dimana-mana, aku masih bisa mendengar jelas suara kicau burung di pagi hari, dan suara jangkrik ketika senja. Hal yang paling aku rindukan, dulu udaranya sangat nyaman, cukup sejuk untuk menjalani siang yang terik tanpa AC. Masa kecilku nyaris sempurna, kecuali satu hal yang selalu mengusik , aku mempunyai sebuah "Gift" yang membuatku berbeda dari anak-anak yang lain. Sewaktu aku kelas 1 SD, aku berlatih setiap hari di depan cermin berusaha mengucapkan "RRRRRRR". Orang tuaku pun tidak tinggal diam, mamaku memanggilkanku guru private dan menitip pesan untuk melatih vokalku disamping mengajari pelajaran pokok. Ohya, bahkan aku sempat meminum air embun, yang konon bisa membuatku mengucapkan huruf R. Aku menaruh air embun di halaman rumah sebelum tidur, berdoa supaya tidak hujan, dan mengambilnya esok pagi. Tetapi sayang, semua hasilnya nihil, sepertinya "Gift" itu tidak ingin berpisah dariku.

Jika anda pernah mengamati anak-anak TK atau SD dalam bermain, pasti ada 1 pemimpin, beberapa pemberontak, minimal 1 orang terbully, dan sisanya pengikut. Anak yang dibully biasanya memiliki kekurangan fisik, seperti berkulit hitam, bermata sipit, pendek, gagap, dan lain sebagainya. Tentu saja, cadel juga termasuk diantara probelema fisik tersebut. Ejekan merupakan hal lazim yang kuterima sehari-hari, "Hai nessie, coba kamu bilang ular lari lurus", kata mereka. Dengan polosnya aku menirukan "Ulal lali lulus", ucapku tanpa curiga yang sontak membuat mereka tertawa seolah aku adalah lelucon terlucu. Malangnya lagi, bukan hanya teman sepermainan yang menggodaku, orang-orang dewasa, bahkah guruku pun menganggap hal tersebut sebagai "Kelucuan". Sunguh menyedihkan.

Aku tidak pernah menangis ketika diejek,karena aku tahu tak ada gunanya. Jadi aku hanya diam sambil menahan amarah di sekolah. Setiba di rumah, aku akan bercerita tentang hariku di sekolah, dan menyelipkan cerita tentang ejekan itu. Orang tuaku selalu berusaha memberikan dukungan untuk tetap percaya diri. Sebelum aku sering menerima ejekan-ejekan itu, sejatinya aku cukup percaya diri, begitulah mamaku bercerita ketika aku bertanya tentang masa kecilku. Aku selalu angkat tangan pertama ketika diminta bernyanyi, baik di sekolahan, sekolah minggu, maupun acara ulang tahun temanku. Aku hafal hampir semua lagu anak-anak pada jamannya, dan bercita-cita menjadi penyanyi saat aku besar nanti. Aku sering menirukan gaya penyanyi cilik yang kulihat di televisi. Ketika aku selesai bernyanyi, beberapa orang memberi tepuk tangan setengah kasihan, setengah terpaksa, dan sebagain lagi ibu-ibu kasak kusuk mengatakan "iya memang tidak bisa bilang R".

Semakin usiaku bertambah, dengan semakin banyaknya ejekan yang aku terima, rasa percaya diri itu kian luntur, aku enggan untuk tampil di depan umum, apalagi bernyanyi. Aku sadar cita-cita menjadi penyanyi adalah hal yang bodoh, mana mungkin ada penyanyi cadel. Aku memang masih kecil saat itu, tapi aku bisa merasakan kejengkelan ketika diremehkan. Sadar akan keterbatasanku, aku belajar cukup giat untuk menjadi nomor 1 di bidang akademis. Hal yang aku yakinkan, "Mereka tidak akan berani mengejekku lagi", sesedeharna itulah motivasi belajarku saat itu. Motivasi itu tertanam kuat di dalam diriku, sampai-sampai aku tidak ingat jika orang tuaku pernah menyuruhku untuk belajar.

Dengan bantuan doa orang tuaku, dan juga kasih tuhan, aku berhasil menjadi juara 1 saat kelas III SD. Prestasi akademisku relatif stabil hingga lulus SMA. Lama kelamaan aku sudah terbiasa dengan predikat "terpintar", "terbaik", yang membuatku menjadi semakin ambisius. Tak jarang aku mewakili sekolah dalam berbagai kompetisi. Aku cukup senang dengan hasilnya, dan yang penting motivasiku tercapai,  jarang ada yang berani mengejek kecadelanku lagi.

Awalnya orang tuaku sangat bangga dengan pencapaianku. Tetapi lama kelamaan, mereka menyadari sesuatu yang tidak beres, akademis dan non akademisku tumbuh tidak seimbang. Di samping itu, aku juga tumbuh menjadi pribadi yang egois. Mereka mulai khawatir dan merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan non akademisku. Karena bernyanyi sudah tidak mungkin, mereka mencari  guru private les tari bali. Aku tertarik membayangkan aku akan tampil di depan orang banyak lagi, setelah beberapa tahun aku tidak pernah melakukannya. Aku les private dengan 2 orang temanku, guru les datang ke rumah dua kali dalam seminggu. Dia mengajarkanku dasar-dasar tari, seperti agem kanan , agem kiri. Tari bali itu melibatkan hampir seluruh tubuh, semuanya ada aturannya mulai dari kepala, mata, leher, pinggang, bokong, tangan, hingga kaki. Karena tubuhku bukan tipe tubuh yang lentur, aku mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan-gerakan tersebut, belum lagi ketika harus menahan satu pose dalam beberapa menit. Sayangnya dia merupakan tipe guru konvesional yang akan main tangan jika aku berbuat salah. Hari les tari bali kemudian berubah menjadi hari yang paling tidak kusukai. Akhirnya aku bilang ke orang tuaku dan meminta untuk berhenti, dengan alasan "Gurunya galak."

Orang tuaku tidak putus asa, kemudian orang tuaku mencarikanku guru private melukis. Gurunya sangat baik, memotivasi , dan pengertian. Sungguh, aku sangat senang sekali. Dia mengajarkanku cara mewarnai yang baik, dan membuatku mempunyai salah satu karya terbaik di kelas. Teman-temanku terheran-heran dengan perubahan gambarku. Setelah tamat SD, aku berhenti les melukis. Di SMP, karya gambarku kembali seperti semula , "rata-rata". Selama les melukis, guruku selalu mencontohkan gambar dan cara mewarnainya, kemudian aku tinggal meniru. 

Karena aku dibesarkan di kota kecil, aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk belajar bermain musik. Tetapi kecadelanku, kegagalanku belajar melukis dan menari bali sudah cukup membuktikan aku tidak mempunyai bakat seni, titik. Akupun menyerah karena kupikir waktuku hanya akan sia-sia. Selama masa SMP dan SMA, aku hanya fokus di pelajaran sekolah, sempat ingin mencoba belajar membuat puisi tetapi langsung ku urungkan niatku. Seorang cadel tidak mungkin bisa berpuisi dengan baik. Syukurnya, aku mulai bisa beradaptasi dengan kekuranganku, setidaknya aku tidak benci dan kesal ketika teman-teman menggodaiku. Aku hanya tertawa atau kadang menggodai mereka balik. Aku merasa hidupku lebih baik. 

Tibalah momen untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih jurusan kedokteran dengan kemauanku sendiri. Saat ini aku sedang menjalani masa-masa koas. Aku menempuh studi pendidikan dokter di salah satu universitas ternama di Indonesia. Ya, aku bersyukur aku bisa lolos seleksinya yang kata orang cukup ketat. Terkadang jika aku mengingat ejekan "menyakitkan" itu, aku merasa bersyukur. Masih jelas dalam ingatakanku, dulu satu-satunya motivasiku untuk belajar adalah supaya tidak diejek. Aku tidak bisa membayangkan , apa jadinya jika aku tidak mempunyai gift tersebut, bakal semalas apa aku, mungkin aku tidak akan lolos di universitasku sekarang. Hingga kini, aku masih memegang prinsip masa kecilku, tetapi kini aku modifikasi sedikit, "Karena aku berbeda dari mereka, karena tuhan menitipkan sebuah "Gift" padaku, jadi aku harus berusaha lebih keras" . 

Ucapan Ms.Yessica menghadirkan kembali suka duka masa kecilku. Ms. Yessica kemudian menjelaskan bahwa dari hasil test aku memiliki lower conformity , scoreku -20 dari rentang +32 hingga -32. "Nessie, kamu orang yang fleksibel, easygoing, dan toleransimu terhadap perbedaan, ide baru sangat tinggi. Tipe kepribadian ini mempunyai art sense yang tinggi." . Dalam hati, aku berucap, "Bagaimana saya bisa tidak mentoleransi perbedaan, saya saja sudah berbeda dari orang lain". Setelah menarik nafas dengan santai, beliau kembali melanjutkan , "Kreativitas ini perlu diwadahi, perlu kamu gali, supaya bisa meningkatkan energy levelmu." Akupun tidak tahan untuk tidak bercerita bagaimana kegagalanku belajar menari dan melukis. Beliau menanggapi dengan sangat tepat dan to the point, "Kamu tidak suka tari bali karena di tari bali kamu diharuskan untuk mengikuti banyak aturan , menyesuaikan gerakanmu dengan hitungannya, sehingga kamu tidak bisa berkreasi dengan bebas, padahal yang kamu suka adalah berkreasi". Aku mengangguk, tanda setuju terhadap penjelasannya.

Beliau kemudian menanyakan aktivitasku, dan aku menceritakan tentang kehidupan koasku. Iseng-iseng aku juga bercerita tentang side jobku sebagai marketing villa orang tuaku, dan aku mengatakan aku suka membayangkan rumah impinanku, villa yang menurutku sempurna dipikiranku. "Tetapi sayangnya saya tidak bisa menggambar Miss, jadi hanya gambaran di kepala saja.", ujarku sambil setengah bercanda. Di luar dugaan, beliau menanggapinya dengan serius , "Art itu bukan hanya tentang menggambar, bernyanyi,atau bernari. Art itu sesuatu yang lebih kompleks mengenai tentang ide, inovasi , dan kreativitas. Jika kamu tidak bisa menggambar, kamu bisa saja menyewa orang untuk menggambarkan imajinasimu dan kemudian mewujudkannya menjadi proyek yang nyata. Banyak hal yang merupakan art di kehidupan sehari-hari, dari mix and match pakaian sampai menciptakan kreasi kue baru, itu semua bagian dari art" .

Selama ini, dengan bodohnya, aku mengurung diriku di dalam rumah yang sempit tanpa jendela dan tidak mengijinkan diriku pergi ke luar rumah. "Aku tidak bisa bernyanyi, menggambar, dan menari.", itulah hal yang berulang kali aku yakinkan ke alam bawah sadar selama bertahun-tahun. Aku menggeser semua tentang art dari mimpiku. Sunggu, aku merasa malu,  tidak cukup mengerti tentang diri sendiri. Alih-alih berusaha mengembangkan diri, aku malah mengjudge diriku sendiri bahwa aku tidak bisa. Hingga aku menjalani deep conversation di sabtu pagi yang membuka mataku. Pikiranku terlalu sempit dan judgemental tentang "ART". Bahwa pada hakikatnya bakat itu bukan dilahirkan tetapi berkembang melalui sebuah proses yang tidak instan.

Aku pergi beranjak ke suatu cafe yang tak jauh dari situ. Cafe tersebut cukup unik, menawarkan konsep vintage, yang bisa terlihat jelas dari warna temboknya seperti coklat tanah dan lantainya yang memakai ubin koleksi jaman kuno. Saat itu, hanya ada beberapa pengunjung, termasuk aku. Tempat yang pas untuk mencari ketenangan dan inspirasi. Hatiku mendadak gelisah, umurku sudah bukan belasan lagi, aku bukan anak SMA , yang berarti waktuku sudah tidak lama untuk mengexplore diri. "Tidakkah sudah terlambat untuk mengexplore art senseku?", pikiranku itu terlintas di benakku. Seketika langsung aku buang jauh pikiran judgemental itu, oh tidak, aku tidak mau jatuh di lubang yang sama, tidak untuk kedua kalinya.

Aku memesan hot green tea sebagai temanku sore ini. Beberapa kali aku mengecek hpku, tidak ada email yang harus dibalas. Aku berusaha merekam hal seni apa saja yang pernah aku lakukan, sekecil apapun itu. Aku tulis secara acak di kertas yang sudah tidak usang. Beberapa  ide berlompatan di  kepalaku, aku tersenyum sambil meneguk teh yang sudah mulai dingin "Aku tahu harus mulai dari mana." , bisikku dalam hati. Being late is better than never

Cheers,


Nessie

PS : the article is originally written by me. However all pictures are not mine, they are taken from google. 



Sabtu, 24 Januari 2015

The First Month of My Holiday

Hi everyone !!!

It has been more than 3 months since the last time i posted in my blog.

24 Dec - 18 January 2015

I felt rather tired nowdays. Basically i love challenge, but this was just too big. I should able to handle things by my self that i never learn  before. Actually, i worked in a team, but i was the only one who handle in the marketing. Unfortunately, due to the change of management, nobody guided me. I was stressed out, long working hours in each day and repeated again in the next day. 

When i have a test in college,
I might be failed, 
But it's simple,
I only need to take the remidial
I am glad that 
nobody will experience any bad effect. 

But now i found my self working not only for me, but also for my mom, dad , my team and their family. I hated the slow progression. For the first time in my life, i was becoming very cheerful when monday came. 

Anyway, I met with many extraordinary people. My mom  had told that one of our consultant (Mr. M ) is a chef, spa trainee, accountant, yoga practitioner, and also the expert in marketing. At that time , i said, "Mom, do you think is it true?  I don't believe it"

Until i met with him directly, and i concluded he wasn't a usual person. Yes, simply from the way he shaked my hand and introduced himself. In the fact, he is a motivator too. Wow, greater than i could imagine. 

Usual people (like me) never believe there are very multitalented people in this world.
Because, 
We compare them with ourselves. 

20 January-24 January

During working, i made some mistakes. In every mistake i made, i promise to my self that one mistake must bring change to the system. 

My work is outside my major, but i really love it. I love the daily activity, how should i dress , how should i act, and how should i speak. Although i felt stressed at the beginning, but i think it still was eustress . This world really suits to me,  three things needed 1) Speed  2) Consistency  3) Creativity

W Group people will say , " It's very useless to study in your major but finally you work like this. Your work must be as same as your major"

But i feel lucky, i also meet with the R Group People. One of them said , "Working outside of your major will make you become different than others. If you really focused on your work, you will have more fresh ideas" 

I learn much things that school never tell me. I have correspondence with many important people around the world, negotiated with them. To be honest, my english is not too good, but the situation forced me to write formal business letter, do complaint or ask something in english with important people . At this moment, i feel lucky, i have experienced this.

Someone ask me about my dream.

A   :What's your dream? do you have it?
Me : Yes Sure, actually i am a dreamer.
A    : what are they? 
Me : too many i think
A.   :What have you done to reach your dream? What's your strategy? Do you have schedule for it?
Me  : No, i don't have any. My target is very simple, i just don't want to pass one day without one new experience ( even the little one) . But i  often failed to fulfill my target. 

One month has been passed since my first working day (241214) , i have made a deal with one of the biggest dealsite in Aussie . I am still waiting for the rundates and hope everything run well. Thank you God, Universe, and EveryLovelyPeople in this world.......

It is truly the most enjoyable holiday in my LIFE :) 

Cheers,

Nessie
Renesie.blogspot.com


Senin, 27 Januari 2014

Berat Badan dan Tubuh Ideal

Halooo semuanya,
Berat badan , banyak orang yang bermasalah dengan yang satu ini, yang paling sering tentu saja kaum hawa. Dunia fashion menampilkan wanita yang kurus dan langsing sehingga persepsi dunia tentang kecantikan wanita berubah. Wanita cantik itu harus kurus!!!

Setiap saya pulang kampung, ada wanita yang menganggap dirinya sempurna karena kekurusannya selalu  mengomentari saya "wah sekarang kamu tambah gendut yaa" . Yah itu ibarat komentar rutin, hal yang selalu terulang dari orang yang sama. Untunglah, saya bukan gadis malang yang setelah mendengar kata-kata itu tidak makan dan menghalalkan segala cara untuk menurunkan berat badan.

No, i am not, and i will not.
Bukan keras kepala, atau tidak mau mendengar kritik orang lain, tapi saya lebih percaya dengan jurnal penelitian dan kata dosen saya dari pada komentar wanita itu .Oke itu intro, #sedikitcurhat. 

Apakah tubuhmu ideal? Berikut adalah cara ilmiah untuk tahu
PS :ini hanya untuk orang dewasa, berusia > 16 tahun

1. BMI ( Body Mass Index)
Silahkan dihitung sendiri dengan menggunakan rumus sedeharna . Pastikan kamu sudah tahu berat badan dan tinggi mu yang terkini. 
BMI (body mass index) =  Berat badan (kg)/ (Tinggi Badan meter )2
Contoh: 
Jika tinggimu 150 cm (1,5 m) dan berat mu 45 kg,
Maka BMI = 45 / 1,52
          BMI = 20 termasuk kategori normal

Kategori BMI


 2. Lingkar Perut
 
Kamu bisa mengukurnya tepat di pusar dengan tali yang lentur dan bisa dilipat-lipat mengikuti bentuk perutmu.
Dikatakan obesitas jika
Untuk wanita melebihi 80 cm
Untuk pria melebihi 90 cm
Lemak di bagian perut jauh lebih berbahaya dari pada lemak di tangan, di paha, dan di tempat lain. Lemak di perut (sering disebut abdominal obesity) merupakan faktor risiko berbagai macam penyakit metabolik.
80 dan 90 cm adalah batas ambang batas, jadi disarankan untuk mencapai angka di bawah itu untuk terhindar dari berbagai risiko kesehatan.




3. Lingkar lengan atas
Nah yang satu ini khusus untuk kaum hawa. Tidak usah berkecil hati jika melihat lengan atas model-model hollywood yang super kecil. Lingkar lengan atas minimal untuk wanita dewasa (>16 tahun ) yang ideal adalah 23,5 cm.
Ini penting sekali , karena nantinya wanita akan mengandung janin. Jika lingkar lengan atas sebelum hamil kurang dari 23,5 cm maka wanita itu cenderung untuk melahirkan bayi yang BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) . Bayi yang lahir dengan BBLR lebih mudah terkena infeksi dan memiliki angka mortality rate yang lebih tinggi dari pada bayi yang lahir dengan berat normal (2,5 kg- 4 kg) . Selain itu wanita yang kurang gizi sebelum hamil juga tidak mampu memproduksi ASI yang sehat untuk bayi mereka kelak.

4. Pemeriksaan Tambahan
Jika usiamu > 30 tahun atau memiliki keluarga yang menderita penyakit diabet/hipertensi/kolestrol tinggi, ada baiknya untuk sesekali mengecek ke lab.

Nah jadi jika BMI mu dan lingkar perutmu masih normal. Kamu ideal berdasarkan MEDIS dan KESEHATAN. Terlebih jika sudah mengecek tekanan darah, kadar gula darah, kolestrol. Jika semuanya normal, mungkin saatnya untuk sedikit mengabaikan opini orang dan mulai mencintai diri sendiri  :) Tapi tentu saja jika masih ingin terlihat lebih langsing, kamu boleh menurunkan berat badan tetapi minimum BMI masih 18,5 ya :) 
Ada yang bilang diet itu bukan untuk jadi kurus tapi lifestyle. Yep saya setuju, pola makan harus tetap diatur dan berolahraga. 


Be a happy girl, Be a smart woman


Cheers
Sumber bahasan:
Buku Fisiologi Kedokteran Sheerwood
Kuliah Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Kuliah Public Health Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Sumber gambar :

Minggu, 19 Januari 2014

Tips Lulus Seleksi Universitas Negeri SBMPTN



Hello guyss...
Sesuai  judulnya, artikel ini saya tujukan sebagai referensi buat kamu-kamu yang masih duduk di bangku SMA, khususnya yang sekarang sudah kelas 3 SMA, sebentar lagi akan ada ujian nasional dan saatnya meninggalkan sekolah tercintamu. Buat kamu yang masih kelas satu/dua SMA, teruskan saja membaca, ada banyak tips yang cocok buat kamu.

Memang sih kata orang-orang masa-masa SMA itu masa-masa paling indah, tapi menurutku masa kuliah juga asik, not as bad as you think. Tentunya pasti banyak yang ingin lolos di  universitas negeri, karena di indonesia, 10 besar universitas terbaik masih didominasi oleh perguruan tinggi negeri.

Sekarang, jalurnya ada banyak sih, SNMPTN undangan memungkinkan masuk perguruan tinggi tanpa test. Tapi tentunya tidak mungkin mengandalkan itu saja, tidak tahu kan bagaimana peruntungan kita? Jadi lebih baik mempersiapkan plan B.

TIPS ini aku kumpulkan dari pengalaman teman-teman yang berhasil masuk universitas negeri ternama :) Jadi bisa dikatakan TIPS ini sudah diuji coba hahaha =D

1. Tentukan Mimpi dan Targetmu
Bagaimanapun kerasnya usahamu, rasanya seperti tidak bertujuan jika tidak punya mimpi. Jika kamu masih kelas 1/2 SMA ada baiknya gantungkan mimpimu 1 atau 2 level di atas kemampuanmu. Tidak masalah nantinya mimpi itu akan  tercapai atau tidak, bermimpi lebih tinggi akan memotivasi belajar dan menjadi lebih baik dari diri kita yang sekarang. Your dreams will guide for you

Tapi jika kamu sekarang sudah kelas 3 SMA, pilihlah jurusan dengan passing grade yang
 realistis dan possible dicapai.

2. Ketahui Waktu Belajar Favouritmu

Sebagian orang suka belajar hingga larut malam, sebagian memilih belajar subuh, yang lainnya lebih suka belajar di siang hari. Tidak ada yang paling benar, semuanya tergantung masing-masing orang. Kamu adalah orang terbaik yang tahu dirimu sendiri. Belajarlah di waktu favouritemu saat mood belajarmu sedang bersahabat.

Tetapi bukan berarti mood belajar yang  terus-terusan jelek menjadi alasan untuk tidak belajar, mood belajar bisa dimanipulasi menjadi baik, misalnya dengan merapikan meja belajarmu, belajar di suhu yang kondusif, mandi dulu sebelum belajar, makan-makanan yang mengandung glukosa yang cukup tinggi, seperti coklat, pisang, dll. Ssttt tapi jangan kebanyakan ya.

PS: Materi SBMPTN itu banyak loh,  jangan belajarnya mulai H-1 minggu, atau sistem kebut semalam. It won't work well. Kalau sekarang kamu masih kelas 1 atau 2 SMA belajarlah dari sekarang, apapun materi di kelasmu, belajar sampai level soal SBMPTN . Sekarang banyak buku SBMPTN yang memuat materi per bab , cukup kerjakan yang sesuai dengan bab yang sedang kamu pelajari, kamu sudah mempunyai tabungan lebih banyak dari pada teman-temanmu yang lain :)

3. Ketahui Cara Belajar Terbaikmu
Explore terus dirimu, cari tahu potensi terbaikmu. Sebagian orang suka belajar soal dulu baru melihat materi, ada yang suka melihat materi dulu baru belajar soal, suka-suka kamu pilih yang mana.Ada yang nyaman dengan suasana sepi, ada yang dengan lagu, atau ada yang sambil bergerak-bergerak, sah-sah saja ^^.

4. Understand First Before Memorizing

Ini adalah hal yang paling penting dan paling krusial. Kesalahan fatal adalah, belajar mati-matian pagi  sampai malam tetapi hanya menghafal bukan mengerti.

Pola-pola soal SNMPTN memang mirip setiap tahunnya, tapi tidak sama dan tidak bakal sama, jadi percuma saja menghafal, terlebih untuk pelajaran seperti matematika, fisika, dll. Belajarlah prosesnya secara lengkap, ikuti penurunan rumusnya, dan pahami betul konsepnya.

Jika sudah memahami konsepnya, saat SBMPTN tiba-tiba kamu blank dan lupa sama hafalanmu, kamu bisa menurunkan rumusnya sendiri :)


5. Latihan Soal-soal

Sekali lagi latihan soal bukan bertujuan untuk menghafal soal. Latihan soal bertujuan untuk melatih kecepatanmu dan mengetahui tipe-tipe soal yang menjadi primadona . Ketika mengerjakan soal, gunakanlah timer, kerjakan seolah kamu mengerjakan test, dalam waktu sebenarnya dikurangi 10-20% nya. Mengapa? Karena saat test kamu juga harus menghitamkan jawaban.

Jika waktnya sudah habis, berhentilah mengerjakan, kemudian hitung nilaimu. Tulis nilai setelah selesai mengerjakan, tidak perlu berkecil hati dengan nilaimu yang kecil, itulah gunanya latihan, lakukan terus sampai kamu bisa bangga melihat nilai yang kamu tulis sendiri.

Tentu saja kamu bisa dan harus mengerjakan soal lain yang belum sempat kamu kerjakan tadi sendiri tanpa  melihat kunci jawaban. Kunci jawaban hanya untuk mencocokkan bukan untuk dipelajari, mengapa? karena kalau tidak memaksa otak untuk berpikir, otak kita bakal jadi malas dan tidak produktif, akibatnya? Kita terus-terusan tidak bisa mengerjakan soal tipe itu setelah beberapa kali menemui tipe soal yang sama.

6. Perlukan Menggunakan Rumus Cepat?

Nah itu tergantung lagi. Rumus cepat sah-sah saja, tetapi kamu perlu usaha extra dan membutuhkan space lebih besar untuk menyimpan memori. Yang penting adalah jangan hanya mengandalkan rumus cepat , pegang konsepnya dulu sebelum menghafal rumus cepat. Jika kamu bisa menghafal dengan baik, rumus cepat bisa membantumu.

Tapi jika kamu bukan tipe penghafal, tidak usah khawatir, tetap gunakan cara konvensional, yang harus kamu cepatkan adalah cara menghitung dan analisamu. Walaupun tidak menggunakan rumus cepat apabila kamu bisa menganalisa dan menghitung dengan cepat, kamu tidak akan kekurangan waktu!
 
PS : Jika kamu bisa menemukan cara mu sendiri , rumus buatanmu sendiri, itulah yang terbaik, gunakan !! ^^

7. Make Your Daily Mission and Weekly Mission
Game pokopang aja ada daily mission nya masa kita gak punya? Aseek!!! . 
Daily and weekly mission sangat penting terutamanya saat fase intensif. Kalau kamu masih kelas satu atau dua SMA , masih santai lah, daily mission nya gak usah terlalu stretch. Your high school moment will never repeated again :p
Buat target belajar setiap hari dan mingguan. Menepati janji pada diri sendiri memang susah, kadang-kadang aku juga masih melanggar target yang aku buat sendiri kok. Tetapi berusahalah untuk memenuhi target harian, jika hari ini kamu sibuk, artinya besok kamu harus belajar lebih banyak. Jika buku soal dan materi yang seharusnya selesai dalam 7 hari dan kamu bisa menyelesaikannya dalam 6 hari, berati mission is already compeleted. Kamu bisa melanjutkannya ke misi selanjutnya atau kamu juga bisa memberikan hadiah untuk dirimu sendiri,  tidak belajar satu hari dan melakukan sesuatu yang menyenangkan hatimu, nonton tv series, olahraga bareng sahabatmu, potong rambut, dll 

8. Jaga jarak dengan Gadgetmu
Selama musim belajar intensif menjelang SBMPTN , biasanya sekitar dua bulan, turunkan sedikit frekuensi membuka social media, stalking , browsing hot gossip dll . Trust me, it is like a drug, make us addicted and decrease our mood to study.

9. Istirahat dan Hiburan yang Cukup
Menjelang musim intensif belajar (2 bulan sebelum test) , tetap rawat dirimu sendiri, buat dirimu senang dan menikmati perjalanan mengejar mimpi ini. Kalau kita saja tidak bisa menyenangkan diri kita sendiri, bagaimana orang lain bisa melakukannya? Tidak perlu belajar gila-gilaan sampai tidak tidur, your body and your brain need rest . Setelah belajar 1-2 jam berilah sedikit selingan supaya tidak bosan. Tidurlah seperti biasanya, jangan mengubah pola tidur. Makan-makanan yang bergizi, kamu perlu asupan kalori yang sedikit lebih banyak di masa perjuangan ini.

Tidak perlu menjadi ansos (anti sosial ) selama masa intensif ini. Apapun yang ekstrem tidak baik kan? Seminggu sekali masih boleh kok hang out dengan teman-teman, tetapi batasi kegiatan yang tidak bikin kamu kelelahan setelahnya. Hindari kegiatan yang membutuhkan energi ekstra dan membuatmu tepar keesokan harinya.

10. Menjelang Hari H

Tiga hingga tujuh hari sebelum hari H, turunkan porsi belajarmu, perhatikan lebih banyak kesehatanmu, tidurlah yang cukup supaya bisa fit di hari H.
Terakhir jangan lupa berdoa dan meminta restu dari kedua orang tua




Well,  the overall tips is not as easy to do as you read it. But the fact, my friends have done it, simple, because they had dreams and strong willingness. They believed they can only if they do the right effort. They did it and they passed the test.
Hopefully, you can enter your   . Good luck ^^
Entering the top ranked university isn't a guarantee to be, but it'll help a little


Sumber gambar
halfwaybetweenthegutter.wordpress.com
www.milindjadhav.com
smude.edu.in
musicpsychology.co.uk
www.gocollege.com
karenmorton.blogspot.com
under30ceo.com