Halaman

Jumat, 15 September 2017

Terima Kasih dan Maaf

Dia datang bukan ditakdirkan untuk hidup denganmu

Terkadang Tuhan mengirimkannya untuk maksud yang lain

Membuka mata kita bahwa kita layak dicintai seutuhnya
Mengembalikan rasa percaya diri yang pernah hancur
Menjadi pelipur lara di saat tangis ini tak terbendung
Memberi bukti bahwa cinta itu mulia adanya

Dia yang dikirim Tuhan untuk meninggikan standarmu

Untuk coretan warna warni yang kau lukis
Untuk setiap sajak puisi yang kau tulis
Untuk nasehat tentang pelajaran hidup
Untuk kesabaran dan ketekunanmu dalam mengejar 
Terima kasih dan maaf kuucapkan

Minggu, 27 Agustus 2017

Mengapa harus soal uang?

Di siang hari yang terik, tidak sengaja aku bertemu dengan saudara jauh di salah satu pusat perbelanjaan. Mengikuti adat budaya timur, sebagai yang lebih muda, aku menyapanya atas dasar rasa hormat. Tante itu agak kaget, tidak menyangka bertemu denganku. 


Dia membalas sapaanku lalu bertanya, 

X : Wah sudah mau lulus ya, mau ambil spesialis apa? 

Me : belum tau tante

X : ambil spesialis xxxx aja uangnya banyak banget. Cuma omong bentar bayarannya mahal

Me : -_- (pura-pura tersenyum) 


Jujur hati kecil saya marah mendengar kata-kata itu. Otak saya berusaha melakukan rasionalisasi, "Apa hanya saya yang kurang suka mendengar pernyataan itu?", atau saya yang terlalu sensitif 


Memilih jurusan spesialis ibarat mengikuti passion dan kata hati. Perjuangan sekolah dokter saja sudah berat, percayalah sekolah spesialis jauh lebih berat. Setidaknya itulah yang dapat saya simpulkan dari pengalaman dua tahun menjadi dokter muda. Datang sebelum subuh, pulang setelah mahgrib, jaga 3x seminggu (sering kali lebih) , tugas yang berjibun hingga mengorbankan waktu untuk diri sendiri maupun keluarga. Tidak ada jatah cuti, jatah sakit, libur semester. Dan satu lagi, tidak ada hari libur! Tanggal merah dan hari raya tetap masuk lebih-lebih untuk junior. Belum lagi panggilan cito yang bisa datang kapan saja dan tidak kenal waktu. 

Perjuangan yang butuh kerja keras, kesabaran, komitmen, dan PASSION. Jelas bukan sesuatu yang bisa diputuskan karena soal uang. 


Saya lahir di keluarga dengan background ekonomi, menjadi dokter adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya. Sungguh sedih rasanya ketika melihat mama papa sakit, tetapi tidak ada yang bisa saya perbuat. Keluarga saya  buta dengan dunia kesehatan, setiap sakit akan selalu dilanda kebingungan. Saya juga mempunyai daftar panjang riwayat penyakit keluarga dari hipertensi, diabetes, penyakit jantung, glaukoma, hingga stroke. Dengan saya menjadi dokter, saya ingin membuka wawasan saya dan keluarga tentang dunia medis. Cita-cita saya bisa membantu orang lain mulai dari keluarga terdekat hingga masyarakat (amin) untuk mengedukasi dan semoga bisa memberikan terapi yang paripurna


Salahkah saya tersinggung jika ada yang berkata menjadi dokter demi uang? 

Saya pernah bilang ke orang tua saya,  saya ingin jadi kaya (amin) , tetapi bukan dari profesi dokter. Biarlah profesi ini menjadi sarana untuk memenuhi rasa haus saya akan dunia medis, membantu meluruskan persepsi orang tentang mitos kesehatan yang tidak benar, dan melihat lebih banyak orang tersenyum.  


Bukan berarti saya tidak ingin dibayar. Semua hal di abad 21 membutuhkan uang termasuk  dokter yang butuh uang untuk hidup layak seperti profesi lain. Yang saya inginkan, nantinya jasa saya tidak memberatkan pasien, cukup sesuai kemampuan finansialnya. 


Karena dokter dan bisnis adalah dua dunia yang sangat berbeda. 

Jelas dari awal harus ada tembok pembatas di antara mereka

Sabtu, 17 Juni 2017

Mampukah kita berbakti pada orang tua?

"Berbaktilah pada orang tua", nasehat yang familiar kita dengarkan dari kita belia, namun praktiknya sangat sulit. 

Karena menghormati....
Tidak hanya dengan mengupload foto bersamanya di social media
Tidak cukup dengan mencium tangannya
Tidak sekedar meminta doa dan restu
Bukan soal membanggakannya di saat dia berjaya

Cerita lain soal hati dan ketulusan
Yang tidak terbatas pada norma sosial
Bukan berdasar suatu keharusan
Bukan karena takut dosa
Bukan semata ingin memiliki nama baik 

Semua kian jelas di hari tuanya
Ketika,
Rambutnya mulai memutih
Langkahnya memendek
Ketegasan wajahnya kian sirna
Tangannya mulai gemetar
Ingatannya sudah tidak seperti dulu
Dan dia mulai menggantungkan hidupnya

Layaknya ombak, waktupun terus bergulir
Dia yang kini tanpa kuasa
Tanpa kekuatan
Hanya bisa duduk diam terpaku
Menanti ada orang menyapanya
Mampukah kita berbakti padanya?

"Saya sibuk"
"Saya tidak punya waktu"
"Bisnisku sungguh menyita waktu"
Yang tulus berbakti tidak akan pernah mengatakan seperti itu

Terima kasih Papa sudah menunjukkan padaku rasa cinta kasih tulus kepada orang tua.
Semoga aku bisa berbakti pada papa mama di saat giliranku tiba nanti

Jumat, 09 Desember 2016

My Body Journey, Don't Let the Bad Genes Stopping You

Hello again! How are you? Hope your day is good :) . Now i want to share about my journey in learning thing that i was not good at, sport. Up and Down. 

I often hear that genetic is just about 1% to determine our success. In other side, i strongly believe that good gene make the process a lot easier. Unfortunately, i don't have good gene in body flexibility. My body was so stiff . My school friends know exactly how bad i was in almost all sports. I struggled harder than anybody else but i got failed. At that time, i passed in sport just because of my teacher's mercy. On the other hand, my academic was above average. I couldn't remember how many times "people" judged me regarding the imbalance between my academic and non academic field.  I understood the point of their tought, but please i also didn't want it. I thought that everything was out of my control. In high shool i often imagined how beautiful the college life will be, there's no sport subject anymore. I will never feel as this bad. 


When i was in the third year at the college, my weight increased significantly. It was a big trouble for me, then i decided to go to gym for the first time in my life. I tried many machines and classes, aerobic, body pump, zumba class, weight lifting.  I fall in love with yoga and pilates although the fact that my body was not flexible at all. To get more focused, i moved to yoga & pilates centre. At that time, i was the student with the most inflexible body. I often did the wrong pose. My teachers are very detailed and attentive. They know when i do  wrong , even just a little. Pilates and yoga are sports that focused on the breath. Once we don't breath, we won't be able to do the right pose. Both of them also require the strong abdmonial muscle, unless our  spinal column will get injured. Many of my classmates that joined later than me able to do the right pose faster. I felt so sad, luckly my teacher always remind me that yoga/pilates is not about competition. We do it for our own health and wellness.  I learn to do the right pose day by day. 

Time flies, it has been 1,5 years. Honestly, i often got lazy in the beginning, but time makes me become addicted. I am happy with my body progress. Yeahh, It is slow but sure. Anyway , i am still just an amateur (that's why i don't post the photo of me, hehe) . It is not easy to manage the schedule since as the coass,  i also work in the night shift 1-2x in a week beside the usual working hours (monday-friday) . But, i love to challenge my self. I am satisfied when i can  manage my time as  productive as possible. And you know what's the happiest thing?  Finally i can do pose that i was not able to do in the high school. 
Genetic is important. But don't let the bad genes stopping you to do the amazing things in your life, to do things that you love. Your life is yours. If the talented person can do perfectly by one try, we need to exercise more often. Again, it doesn't mean we can not. It is only a matter of time.

Exercise  is very good for our health.  I am writing to invite you to exercise , especially for you who doesn't have natural talent like me. You are not alone, many people are not blessed with flexible body. All you need is to find the strong reason to fight your laziness. Then keep doing exercise until you find something is going wrong when you don't. We don't need to be number one, also  don't to need to compare ourself to others. The only ideal competitor is ourself in past. 

Selasa, 11 Oktober 2016

Pengusaha itu harus cerdas!

Kita kerap kali mendengar opini orang untuk menjadi pengusaha gak harus pintar. Rejeki sudah diatur Tuhan, kaya itu bejo-bejoan. Ada yang lebih ekstrem lagi, yang berbangga dengan "ketidakcerdasan"nya, "Gak apa-apa remidi terus, gak perlu capek-capek belajar, Bob Sadino (alm) saja tidak tamat SMP". Kemudian menjadikan alasan tersebut untuk bermalas-malasan belajar dan mengembangkan diri?

Bagaimana menurut anda? Berikut pengalaman saya yang menguatkan keyakinan saya bahwa pengusaha itu harus cerdas.

Keluarga saya mempunyai bisnis baru berupa villa di Bali, hanya beberapa villa kecil yang kami sewakan harian untuk mencari penghasilan tambahan. Villa itu didirikan pada tahun 2012. Dengan latar belakang saya dan orang tua yang bukan berada di bidang tourism, kami menyerahkan operasional villa kami ke suatu manajemen lokal dengan imbalan fee dari keuntungan bersih.

Saya tidak setuju dengan beberapa buku bisnis yang 'seolah' menggampangkan segala usaha. Kasi modal, serahkan pada ahlinya, dan tinggal mengecek laporan setiap bulan. Trust me, it is not as that easy. Terutama jika kita hanya pemodal kecil dan pemula.

Operasional villa tidak berjalan mulus, dari occupancy yang tidak stabil, complaint tamu yang tidak direspons dengan baik, serta keuntungan yang tidak sesuai target. Pada setiap meeting evaluasi, akan muncul jawaban yang sama, "Ya mau gimana lagi sekarang banyak hotel dan villa baru" . Sampai pada suatu titik jenuh , kami diultimatum bahwa owner tidak boleh ikut campur urusan manajemen. Jelas kami tidak ingin mencampuri jika semuanya berjalan sesuai target, tapi kalau tidak kami berhak masuk ke sistem kan? Oya, di perjanjian awal , kami diperbolehkan untuk masuk ke ranah operasional.

Ketika rasa curiga akan tidak adanya transparansi, saya akhirnya memutuskan untuk mencari tahu semua sumber online reservation yang kami punya. Hal pertama yang harus saya ketahui adalah username dan password. Sayapun menemui staff reservasi villa kami di kantor dan menanyakan data tersebut. Anda tahu jawaban apa yang saya dapatkan "Password tidak boleh keluar, yang boleh tahu hanya saya dan manajemen". Saat itu saya benar-benar marah dan kesal, lalu mengomel dalam hati, "Dasar baru jadi daily worker saja sombongnya sudah setengah mati!". Kemudian saya berpikir  rugi juga ya kalau saya cuma marah. Saya sadar semua ini akibat langsung dari kebodohan saya.

Beberapa bulan setelahnya, dengan beberapa negosiasi dan jalan damai yang telah diupayakan, akhirnya kami mengambil jalan ekstrem untuk memutus kerja sama dengan pihak manajemen. Keputusan yang berat dan nekat karena kami sama sekali tidak tau bagaimana cara mengoperasikan sebuah villa.

Manajemen pun memblok ruang gerak kami. Semua sumber online reservation diputus saat itu. Kami harus menghubungi satu per satu agent , memulai dari awal dan membuat kontrak baru . Semuanya memakan waktu yang tidak sedikit. Selama itu pula tidak ada reservasi baru yang masuk, ranking villa turun dan staff kehilangan harapan. Kenapa memakan waktu lama? Karena saya bodoh dan mencoba-coba meraba sistem ecommerce hotel dan villa, mengenal online travel agent, extranet, channel manager, mapping, yang semuanya belum pernah saya pelajari. Celakanya saya kembali diremehkan oleh seorang staff perempuan yang menangani bidang ecommerce saat itu.

Saya ditugaskan untuk menyerap ilmunya, dan harga diri saya berkali-kali diinjak. Dia kerap kali mengeluh keputusan kami yang keluar dari manajemen. Ketika saya bertanya, dia hanya menjawab ," Ini manajemen yang tau, aku gak tau" . Atau menjawab, "Gini lo caranya, kan bisa dilogika". Disini saya belajar, tidak peduli statusmu, orang bodoh akan selalu diremehkan. Beberapa minggu berselah akhirnya dia memutuskan resign.

Saya belajar dengan modal nekat, bertanya dengan bodoh ke market manager hal-hal yang simple, membaca guidance yang ada, dan mengikuti training . Bahkan,  menulis bahasa inggris formalpun saya tidak tau. Saya terus dibayang-bayangi ketakutan perusahaan yang semakin merugi. Tiga bulan awal adalah saat-saat yang sulit, kami mencapai rekor titik terendah penghasilan yang didapat sejak villa beroperasi. Tetapi saya percaya bahwa kebodohan adalah hal yang bisa diberantas dengan usaha kuat untuk belajar. Kecerdasan di suatu bidang bisa diraih dengan kombinasi antara pengalaman, membaca, bertanya , dan berdiskusi dengan orang-orang yang hebat.

Kami melakukan pembenahan di beberapa aspek. Walaupun kecil, kami ingin mengelolanya dengan profesional. Memang masih jauh dari sempurna, tetapi kami berkomitment untuk terus belajar dan melakukan perbaikan, baik itu fasilitas, servis, maupun sistem. Jika memikirkan saat-saat kritis itu,  saya pribadi tidak menyangka dengan semua kejutan yang terjadi selama 2 tahun ini. Saya beruntung mendapat pelajaran hidup bahwa keragu-keraguan dan kebodohan tidak boleh menghentikan langkah untuk maju. Jalan ke depan dan terus belajar, dan kita tidak akan menjadi orang yang sama.

Memang banyak pengusaha sukses yang hanya lulusan SD bahkan tidak sekolah sekalipun. Tetapi, mereka rata-rata datang dari keluarga yang jauh dari cukup, sehingga akhirnya putus sekolah dan bekerja di usia yang belia. Betul adanya, si bintang kelas belum tentu menjadi orang sukses . Karena edukasi formal hanya mengajarkan 5% dari pelajaran hidup, sisanya adalah melalui suatu proses belajar yang terus berlangsung. Mengutip kata kata dari konsultan saya, "Pengusaha  haruslah cerdas , karena dengan begitu dia tidak akan pernah takut kehilangan orang ( staff ) ". Mereka harus tau secara general apa saja yang dikerjakan oleh semua staffnya dan menguasai secara detail domain yang penting dalam sebuah perusahaan.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Hati Pasien Psikotik

Sinar matahari pagi menembus gorden, berusaha membangunkan penghuninya. Aku terbangun kaget, "oh sudah jam setengah 7", keluhku dalam hati, yang berarti alarm sudah aku snooze sebanyak tiga kali. Dengan masih menahan ngantuk , aku melangkahkan kaki mengambil handuk dan melakukan rutinitas pagi. Sadar sudah terlambat, aku mempercepat setiap gerakanku.

Kegiatan di poli berjalan seperti biasa, nyaris tidak ada yang spesial. Poli yang sempit dengan ruang tunggu padat  pasien yang mencari secercah harapan. Kemudian pasien wanita berusia sekitar 30an. Dia mengenakan terusan bunga-bunga dengan jilbab yang dililitkan di lehernya. Wajahnya nampak cemas dan bingung, tapi masih jelas terpancar kecantikannya. Namanya ibu devi. Ibu devi pun naik ke kasur pemeriksaan khusus kandungan dan diperiksa oleh supervisor. Kursinya didesain khusus untuk memudahkan pemeriksaan pada area intim wanita, dengan 2 tatakan besi di kanan kiri untuk meletakkan kaki pasien. Ibu devi tampak kesakitan, menangis, dan sangat tidak kooperatif. 

Oh ini toh yang dibilang si candra barusan saat aku ke ruang sebelah menanyakan kina. "Lohh si kina mana can?" "Itu tuh doi lg anamnesa pasien skizofrenia", sambil menunjuk keluar ruangan. "Dari tadi ga balik-balik", lanjutnya lagi. 


Sedikit saya akan membahas tentang skizofrenia. Skizofrenia , maaf bahasa awamnya adalah gila, walaupun istilah "gila" sudah tidak diperbolehkan lagi karena identik dengan stigma yang memojokkan penderita. Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis dengan durasi lebih dari satu bulan, yang ditandai adanya hendaya(gangguan.red) dalam menilai realita atau psikotik. Ada mitos-mitos yang menyebutkan skizofrenia adalah penyakit kutukan, penyakit akibat guna-guna, turunan , dll. Perlu ditekankan disini, hal tersebut adalah tidak benar. Sungguh disayangkan banyak penderita skizofrenia yang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya, mereka dibawa ke pengobatan alternatif, minum air suci, jamu-jamuan yang belum jelas bukti ilmiah nya. 

Penyebabnya multifaktorial, mulai dari genetik, neurokimiawi di otak, pola asuh, malnutrisi, stresor yang berat hingga penggunaan NAPZA. Kembali mengingatkan, genetik bukan berarti keturunan yang mengikuti hukum mendel (misal pada buta warna) . Peran genetik ini didasarkan pada bukti epidemiologis, bila salah satu orang tua skizofrenia, kemungkinan anaknya menderita skizofrenia sebesar 10-20%. Skizofrenia juga dikaitkan dengan hiperaktivitas dopaminergik dan serotonergik yang merupkan tempat kerja dari sebagian besar obat-obat psikotropika. Kelemahan ego (mekanisme diri dalam menghadapi masalah) tertentu juga mrupakan cikal bakal skizofrenia. Mekanisme pembelaan ego proyeksi, Impuls internal yang tidak dapat diterima ditanggapi seakan-akan berasal dari luar diri. Misal tidak lulus ujian karena beranggapan guru tidak suka dengannya dan memberi nilai jelek. Atau kalah dalam kompetisi karena sedang sakit. Gampangannya ini merupakan cerminan orang-orang yang suka mencari alasan. Hal ini menimbulan waham paranoid dan menyebabkan skizofrenia paranoid. Ciri kepribadian tertentu, seperti paranoid, skizoid(suka menyendiri , tidak suka bergaul) juga merupakan faktor risiko dari skizofrenia. Sungguh multifaktorial bukan?

Oke balik lagi ke cerita tadi ya.
Supervisor poli lalu meminta untuk dilakukan biopsi karena dicurigai kanker leher rahim. Biopsi merupakan prosedur pengambilan jaringan. Dengan cepat saya langsung meminta ijin untuk melakukan biopsi ke ppds, "Dok, boleh saya yang biopsi?" , kata saya penuh harap. Senior saya (PPDS , mereka yang sedang menempuh sekolah spesialis) menjawab iba, "maaf ya dik, ini pasiennya tidak kooperatif, tadi kata perawatnya sempet teriak marah-marah, padahal kalau enggak saya pingin lo ngasi ke kamu", ujarnya merasa kasihan denganku. 
Jika anda tertarik membaca mengenai pencegahan kanker serviks/leher rahim, dapat mengunjungi link : http://renesie.blogspot.co.id/2013/11/vaksin-cegah-kanker-servix-perlukah.html

Dokternya lalu mengedukasi ibu devi , "Bu, nanti saya masukkan alat, ibu nya jangan gelisah ya, kalau gelisah malah bahaya bisa berdarah-darah", ujarnya.
"Ya gimana ya dok kalau sakit", ujarnya dengan ekspresi datar.
Dokter : "ya harus ditahan bu biar tidak berdarah"
ibu devi : "saya kan susah dok nahan rasa sakit", tetap kekeh tidak mau diperiksa
Dokter : "ditahan aja bu"
Beliau pun dengan cekatan memasuki alat untuk memeriksa leher rahim. Alatnya ada yang terbuat dari besi / plastik, ukurannya cukup besar, diameter sekitar 7,  orang normal pun juga pasti merasakan sakit. Saat dokter ppds memasukkan alatnya, pasiennya tampak tegang, sehingga alatnya tidak bisa masuk. 

Kemudian dokter nya memberi isyarat ke saya untuk menenangi pasiennya
Saya : "Bu yang tenang ya jangan ditahan, ibu nya relaks aja, tarik nafas buang nafas" , saya pun jadi ikut-ikutan tarik nafas buang nafas untuk memberi contoh
Ibu : "Tapi sakit dok, ini saya diperiksa untuk apa"
Saya : "Biar tau penyakitnya ibu bu, katanya kan ibu pendarahan ya? Ibu mau sembuh kan? ", kataku bertanya meminta persetujuan
Ibu : " Iya dok sudah lama, dulu saya tidak mau berobat karena suami saya jahat", kali ini ekspresi mukanya sedikit berubah
Dokter : "Jahat kenapa bu? ", beliau menimpali saat melakukan pemeriksaan secara seksama
Ibu : " Iya dia tidak pulang-pulang dok, tapi sekarang saya mau berobat dok, saya berobat untuk saya, saya takut berdarah-darah"
Saya : "Iya bu makanya ini diperiksa dulu ya, biar tau penyakitnya, biar ngobatinnya bener, ibu mau sembuh kan?", bujukku lagi
Ibu : "Iya dok saya mau sembuh, ini saya kena guna-guna dok. Ada orang yang tidak seneng dengan saya, saya tahu dok, dia sudah lama tidak suka dengan saya", ceritanya seperti anak-anak dengan ekspresi yang datar 

Disini saya bisa melihat sifat kekanak-kanakan yang merupakan kemunduran mental yang merupakan salah satu ciri dari psikotik. Tampak juga waham paranoid/curiga

Saya : " Iya bu makanya nanti ibu tenang ya biar bisa ga berdarah-darah lagi"
Ibu : "Iya dok gak apa-apa, saya mau dok, saya mau sembuh."

Dokter ppds mengambil jaringan leher rahim pasien dengan menggunakan alat, dijepit dan ditarik, yang sudah pasti sakit. Untungnya,  ibu devi sudah  tenang, sehingga pemeriksaan berjalan dengan lancar
Saya : "Sudah ya bu sudah selesai, wah ibunya pinter", ujarku memberi pujian
Dokter : " Dik kamu edukasi dia sejam lagi kesini lepas kasa, ini keluarganya mana sih"
Saya : " Ibu, sekarang dipasang kasa biar ga berdarah. Nanti sejam lagi kesini lagi ya lepas kasa. Nanti ketemu saya lagi" Saya lalu menunjukkan arloji tangan saya , "ini jam berapa bu?"
Ibu devi :"Jam setengah 12."
Saya : "Jadi sejam lagi ibu ketemu saya jam berapa? Ibu bawa jam gak?" 
Ibu : " Gak bawa dok, jadi jam setengah satu ketemu dokter"
saya : " Sipp bu , sejam lagi jangan lupa ya ketemu saya lagi, sudah bu celananya boleh dipakai"

Suaminya (pak ali) pun muncul . Beliau tampak lebih pendek dari si ibu, berkumis , kulit sawo matang dan wajah tegang. Pak ali membuka pintu dengan agak kasar

Dokter : "Nanti sejam lagi kesini lepas kasa ya pak."
Pak ali : "Lepas kasa apa dok?", tanyanya dengan lantang
Dokter : "Ini tadi saya ambil jaringannya , biar ga berdarah-darah saya kasi kasa"
Pak ali : "Lo? Setelah diambil kasa ga berdarah kan?", dengan nada lebih tinggi , berharap prosedur tadi bisa menghentikan pendarahan
Dokter : "Iya tetep berdarah pak, kan penyakitnya belum sembuh"
Pak ali : "Sejam lagi ya dok? Jam berapa?"
Ibu devi : "Jam setengah satu mas sejam lagi ( dia tampak kesal dengan suaminya yang tidak mengerti ucapan sejam lagi, haha)"

Sekedar informasi, sebagian besar penderita skizofrenia tidak mengalami kemunduran intelektual.

Pak ali : "Dok ini hasilnya kapan jadi?"
Dokter : "Seminggu lagi ya pak"
Pak ali :"Kok lama banget ya dok? Gak bisa lebih cepat?", protesnya dengan nada kesal

###

Tidak sampai 15 menit, seorang perawat poli, ibu sitha masuk ke kamar pemeriksaan. "Dok, ini pasiennya gelisah, konsulkan psikiatri , saya hubungin ya, nyerah saya"
Dokter: "Boleh banget bu, monggo monggo (silahkan.red) dikonsulin"
Perawat itu lalu keluar

Empat puluh menit kemudian si suami dan pasien datang, dan kebetulan ibu sitha ada di dalam.

Perawat : "Ngapain masuk lagi?"
Suami  : "Katanya lepas kasa"
Ibu devi :"Saya disuru kesini sejam lagi lepas kasa sama dokter yang itu", sambil senyum ke arah saya
Perawat : "Wes wes belum sejam, tunggu di luar dulu"

Selang waktu berlalu, saya keluar ruangan untuk sekedar melihat suasana ruang sebelah. Baru saja membuka pintu, saya sudah dikagetkan dengan suara dari Perawat, Ibu sitha

Perawat : "Mbak dm itu kasi tau pasiennya mau dikonsulin psikiatri", ucapnya
Pasien tampak marah dan masuk ke ruang yang lain

Saya mengikuti masuk ke ruang itu
Saya : "Halo ibu, gimana bu?", sambil menahan jarak ke Ibu devi, kali-kali dia lagi agresif. Di luar dugaan, ibu devi malah menjawab pertanyaan saya layaknya tidak ada sesuatu yang terjadi "Hehehe, gak apa apa dok, belum diambil ya kasanya?"
Saya : "Bu, nanti ibu ngomong-ngomong dulu ya sama dokter di sebelah, abis itu baruu saya lepas kasanya. Ibu disini aja dulu tidur-tiduran gak apa-apa"
Ibu devi : "Iya dok, saya disini ya dok", ucapnya tersenyum
Saya : "Nanti ibu dicari kesini, jangan kemana-mana ya ibu cantik"

Kemudian saya mengajak bicara keluarganya. Ternyata pasien juga didampingi oleh ibu, anak, kakak pasien, dan beberapa keluarganya lagi.
Dan saya kaget, ternyata mereka belum tahu bahwa ibu devi akan dikonsulkan ke bagian psikiatri

Ibu pasien : "Saya gak ada dikasi tau dok, ini tadi ibu devi abis marah-marah sama ibu itu"
(Keluarga berdiri berjejer  mendengarkan dengan seksama)
Saya : "Lo kenapa bu?"
Ibu pasien : "Iya dia kasar sekali, terus mau pinjam kursi roda disuruh bayar"
Saya : Mmm (mengangguk-angg), "iya bu jadi ini kita konsulkan dulu ke dokter jiwa ya bu. Ini kan penyakitnya ibu ada 2, penyakit kandungan dan penyakit jiwa. Yang kami takutkan penyakit jiwanya menghambat pengobatan penyakit kandungannya, kan kita maunya pengobatannya biar optimal bu"
Ibu : "Makasj makasi dok, ini ibu devi baru 2 hari dok ngacau2 begini"

Saya kaget, karena batas skizofrenia adalah 4 minggu. Jadi kemungkinan pasien ini masih psikotik akut yang prognosisnya jauh lebih baik dari pada skizofrenia. Setelah itu saya menjelaskan prognosis dari gejala psikotik akut yang diderita pasien, yang terbagi menjadi 3 macam, sembuh sempurna, berlanjut menjadi kronik, atau sembuh dengan gejala sisa. Kami juga berbincang-bincang mengenai kanker leher rahim, rencana terapi kami,  dan prosedur biopsi yang memang membutuhkan waktu lama untuk meluruskan pandangan suami pasien.

Lalu kami masuk lagi ke ruangan, dan ibu devi terlihat membaca doa
Ibu devi : "Ehh ada dokter cantik, saya lagi sholat dok, kan sekarang lagi sakit supaya dibantu sama gusti allah"
Keluarga pasien : " Bilangnya lagi belajar sholat gitu lo"
Ibu devi : "Hehe iya dok belajar sholat, saya berdarah-darah , harus dekat dengan Allah ya dok biar dapat kesembuhan"
Saya : "Iya bener bu, doa juga penting ya biar dibantu sama yang diatas. Apalagi ini sudah waktunya sholat"
Ibu devi : "Iya dok, sekarang sudah dzuhur. Dokter habis ini kasanya dilepas?"
Keluarga pasien : "Udah jangan diajak ngomong terus , dokternya sibuk", keluarga pasiennya sepertinya sungkan denganku
Saya : "Hehe, gak apa apa bu. Iya nanti setelah omong-omong sama dokter sebelah baru dilepas kasanya ya. Monggo dilanjutin lagi ya bu sholat  nya"
Ibu devi :" Makasi banyak dok"

Selesai dikonsulkan ke psikiatri, saya lalu melepas kasa pasiennya, tentu saja pasiennya kooperatif.  Ibu , kakak dan anak-anak pasien kompak mengucapkan terima kasih, " Terima kasih banyak dokter sudah ditolong, semoga allah yang balas kebaikan dokter" . Padahal saya tidak melakukan hal yang berarti untuk ibu devi. Penyakitnya masih ada, tetap sama. 

Walaupun awalnya sedih karena tidak dapat mencoba melakukan tetapi aku belajar banyak tentang kehidupan dan rasa syukur. Sungguh berat beban yang diderita ibu tersebut, menderita kanker leher rahim  di usia yang masih tergolong muda. Aku teringat dengan kata-kata sewaktu menjalani stase psikiatri, "Masalahmu tidak ada apa-apanya dibandingkan masalah pasien kita. Kita mungkin berpikir mereka menderita gangguan jiwa karena kepribadian yang lemah, tetapi ketahuilah masalah mereka sangat berat , yang mungkin kita juga tidak siap untuk menanggungnya". 

Ya, kata-kata tersebut benar adanya. Masalah yang saya tahu hanyalah  kanker leher rahim, sangat mungkin ada masalah lain yang lebih berat . Tak ada satupun orang yang bisa terlepas dari masalah yang merupakan seni kehidupan. Tetapi selagi kita mampu, bantulah mereka yang mempunyai masalah yang lebih besar dari kita, sekecil apapun itu.

Penderita psikotik tidak sadar diri mereka sakit. Kadang mereka bicara melantur, mengamuk, bertingkah aneh, atau bahkan menimbulkan kekacauan yang fatal. Waspada dan hati-hati diperlukan tanpa menghilangkan empati. Bagaimanapun, mereka juga makhluk ciptaanNya yang mempunyai jiwa yang utuh. 

Dari beberapa episode flarenya, pasti ada celah dimana kita bisa diterima. Tentu hal ini membutuhkan usaha berkali-kali. 
Hati mereka yang keras dan dingin sejatinya haus akan kasih sayang dan perhatian.

NB : Tulisan ini saya dedikasikan untuk sanak keluarga dan orang-orang terdekat pasien psikotik. Psikotik bisa dikendalikan atau disembuhkan pada tahap akut (kurang dari satu bulan) dengan terapi obat-obatan, konseling dan juga support dari orang-orang terdekat. Memasung, mengurung pasien dalam ruang yang sempit semata-mata supaya tidak berbahaya bagi lingkungan merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Pada tahap yang tidak bisa dikontrol, penyakit puluhan tahun dengan periode flare yang sering (kumat) , pasien bisa dirawatinapkan di rumah sakit jiwa atau menjalani rehabilitasi di panti-panti khusus. Biarkanlah mereka bahagia dan menikmati dunia dengan cara mereka sendiri. Jika ada hal yang ingin anda sharing, saya bisa dihubungi melalui email : irenesienatra@gmail.com 

With love,

Renesie

Kamis, 11 Agustus 2016

Lihat Cahaya Itu

Hai Kamu,
Lihat Cahaya itu,
Terang namun tidak menyilaukan
Mengundang setiap insan tuk mendekat
Mendekap erat hangatnya
Namun,
Dia ada nun jauh disana

Hanya yang tangguh yang sanggup,
Jalanan begitu licin
Penuh kerikil yang menyandung kaki,
Luka, air mata, derita rindu
Terjatuh sudah biasa
Jelas...
Hanya yang tak kenal lelah yang dapat memeluknya

Hai Kamu,
Akankah kamu datang? 
Pasti,
Aku yakin sebentar lagi

Sabtu, 02 Juli 2016

Hedonisme dan Pencitraan

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang topik ini. Hingga hari ini rasanya kepala sudah tidak sanggup menampung ide-ide yang berlompatan (baca : flight of ideas) , oke jadi saya harus segera menuangkannya. 
Pada periode 2009-2014 , pertumbuhan properti di indonesia tumbuh subur  "gila-gilaan". Harga tanah menjadi 2x lipat dalam waktu kurang dari 3 tahun. Tetapi semua ada masanya, kini pasar properti melesu, harga relatif stagnan bahkan di beberapa tempat terjadi penurunan harga karena rendahnya demand.  Tetapi ledakan harga properti dalam waktu 5 tahun sudah cukup menghasilkan banyak OKB (Orang Kaya Baru). Dampaknya? Perubahan gaya hidup yang bisa diamati dari pertumbuhan pesat cafe-cafe baru, resto mewah, dan peningkatan jumlah mobil pribadi di Indonesia. Peningkatan kelas mengengah dan daya beli masyarakat diiringi dengan menjamurnya social media ke semua kelompok umur, khususnya generasi muda. Apakah ini yang disebut hedonisme dan pencitraan?
Rhenald Kasali, guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menulis sebuah artikel yang berjudul "Generasi Wacana" . Beliau menyayangkan sifat kita sebagai generasi muda masa kini yang kerap kali melakukan sesuatu demi pencitraan. Berkonstribusi dalam amal beberapa jam tetapi mengupload foto bertubi-tubi dengan caption seolah kita sudah membuat perubahan besar. Pergi ke hotel bintang lima untuk dinner mewah di saat income kita kurang dari 5 juta perbulan hanya untuk upload di akun sosmed. Haus pengakuan dan like. Seberapa sering anda melihat orang yang update menikmati jamuan di hotel bintang 5 atau sekedar menghabiskan weekend di villa sambil berselfie ria? Coba bandingkan dengan timeline facebook 5 tahun yang lalu.
Sosmed membuat kita merasa dekat dengan artis papan atas, pejabat publik, dan kalangan elite lainnya. Kita melihat kehidupan mereka dari mobil mewah, berenang di hotel, nongkrong elite, pernikahan bak raja dan ratu yang menimbulkan keinginan untuk  menjadi seperti mereka 1x saja. Ya, sesekali pada awalnya dan kemudian sensasi kemewahan menjadi candu. Belum lagi senangnya mendapat follower baru dan banyaknya likers memuaskan hasrat menjadi "Artis".
Masih ingat dengan pernikahan Glenn & Chelsea tahun lalu? Sebuah event yang ramai diperbincangkan, romantis, mewah, hangat, dan WOW. Mulai dari foto prewedding, short movie, resepsi pernikahan, honeymoon yang memukau dan membuat mupeng. Apa ini hedonisme? Tidak, saya melihat berbeda, mereka cerdas! Mereka melakukan self branding dengan apik. Hampir selalu ada tag di setiap foto, gaun, make up artis, wedding cake, event organizer, venue, photographer, hingga honeymoon organizer. Asumsi saya kebanyakan adalah sponsor, which is free. 
Kehidupan mewah ala artis adalah tuntutan dari job mereka. They are paid for that. Bagaimana jika kalangan anak muda , mahasiswa atau pekerja kantoran yunior yang menginginkan lifestyle se WOW itu? Di sisi lain, lifestyle seperti itu merupakan hal yang wajar jika terlahir di keluarga konglomerat.  Hedonism adalah ketika kita orang biasa dengan income pas-pasan mengikuti luxury life style ala konglomerat. 
Saya pribadi kadang tergiur dengan kehidupan serba hedon, siapa sih yang tidak ingin hidup mewah dan nyaman? Everybody wants it. Tetapi saya sadar, saya hanya seorang koas yang masih bekerja dengan orang tua dengan income < 5 juta/bulan. Kehidupan mewah belum pantas untuk saya. Walaupun sesekali saya masih melakukannya. 
"If you spend, spend, spend, not only will you never become rich, but the responsible part of you will eventually create the situation where you don't even enjoy the things you spend your money on, and you'll feel end up on guilty"
(Hary Eker, Secret of Milionare Mind)

Masih dalam buku yang sama , dikatakan bahwa sejatinya orang yang melakukan pencitraan di sosial media tidak lain adalah mereka yang butuh pengakuan, the broken people. Mereka yang minder dengan kehidupan nyata. Fake happiness, sad truth,  berharap memposting sesuatu yang elite bisa menaikkan level mereka. Saya sendiri masih belajar memberantas bibit hedonisme dalam diri. 
Robert Kiyosaki dalam bukunya yang terkenal, Rich Dan and Poor Dad bercerita dia menginginkan sebuah mobil mewah,  saat itu dia punya uang yang cukup untuk membeli mobil itu. Alih-alih membelinya dia malah menginvestasikan uang yang ia miliki untuk membeli real estate, dan dalam 3 tahun, keuntungan real estate mampu membelikannya 10 mobil. Pelajaran yang simple tetapi sarat makna, menunda hasrat untuk spending akan membawa kita mencapai kebebasan finansial lebih cepat.
Apa definisi hedonisme dan pencitraan menurut kamu? Share yuk disini
Thank you for reading
Renesie

Kamis, 02 Juni 2016

Renungan

Tuhan, sebagaimana Engkau kehendaki
demikianlah kiranya terjadi padaku
dan sebagaimana Engkau kehendaki
demikianlah aku mau melangkah
Tolonglah aku, agar aku selalu mengerti kehendak-Mu

Tuhan, apa yang Engkau kehendaki
kuterima dalam hatiku
dan apa yang Engkau kehendaki
menjadi kebahagiaan bagiku
Cukuplah bahwa aku seluruhnya menjadi milikMu

Tuhan, karena Engkaulah yang menghendakinya
maka adalah baik bagiku
dan karena engkaulah yang menghendakinya
aku tabah dan aman
Hatiku tenang dalam tanganMu

Tuhan, kapan saja Engkau menghendakinya
Itulah waktunya bagiku
dan kapan saja Engkau menghendakinya
aku siap melangkah
Hari ini dan setiap hari
dan sepanjang segala abad
Amin

I love you

I just retype this article :) 

Kamis, 21 April 2016

Melihat dari Dua Sisi Uang Logam

Isu mengenai agama selalu menjadi topik yang sensitif sekaligus hangat untuk diperbincangkan. Tidak jarang untuk menarik banyak follower di era social media ini, orang-orang ramai mengepost segala sesuatu berbau agama. Sebagian besar mempunyai niat tulus untuk berbagi kebaikan tetapi segelintir bermaksud untuk memprovokasi. Mereka pun berhasil, postnya menjadi trending topic. Halaman komentar seketika berubah menjadi ajang adu mulut, menentukan siapa yang benar, agama siapa yang lebih baik, dan malangnya lagi menggunakan kata-kata yang tidak beragama. Mengapa agama harus diperdebatkan jika tujuan kita satu? Saya berkeyakinan semua agama mengajarkan hal yang sama, KEBAIKAN dengan caranya masing-masing. 
Pendiri bangsa ini sudah mencanangkan pancasila dengan sila-silanya yang begitu arif, tetapi praktiknya butuh usaha dari semua pihak. Sejak kecil saya besar di lingkungan minoritas. Sedikit tidaknya saya tahu bagaimana rasanya menjadi berbeda.  Bukankan setiap insan tidak bisa memilih terlahir di keluarga seperti apa? Budaya timur masih menganut prinsip mengikuti orang tua. Kita diajak untuk mengikuti satu agama tanpa diberi kesempatan memilih. Bahkan kita kesulitan mendapat akses untuk mempelajari agama yang lain.
Tidak ada penyesalan dalam diri, orang tua selalu menyekolahkan di sekolah yang membuat saya menjadi minoritas. Jauh di lubuk hati saya, kerap kali terbesit rasa syukur. Karena dengan begitu saya bisa mentoleransi perbedaan. Indah tidak selalu harus sama. 
Kadang cukup pilu mendengar perdebatan dan saling adu mulut masalah agama dari orang-orang yang berpendidikan. Bukankah logika mereka seharusnya sangat baik untuk bisa melihat dari dua sisi? Banyak faktor yang berpengaruh. Keluarga, sekolah, dan juga lingkungan. Kehidupan di keluarga susah diintervensi secara masal, begitu juga dengan lingkungan. Perbaikan membutuhkan perubahan yang  gambling antara berhasil atau tidak. Mengutip dari kata Nelson Mandela, "Education is the most powerful weapon to change the world". Ada peluang untuk mengubah generasi bangsa menjadi lebih tolerir, sekolah!

Saya menyadari pentingnya ajaran agama ditanamkan dari kecil. Konon, anak dengan agama yang baik akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Tapi ada yang sedikit menggelitik benak saya, mungkin lebih baik jika kita juga dikenalkan dengan agama lain dari kecil.  Bukan untuk membuat bimbang dengan agama orang tua kita tetapi memperkaya wawasan, menyadari agama lain juga mengajarkan hal yang baik, sehingga lebih mampu bertoleransi. Menurut saya sekolah yang menerima siswa dari agama apapun adalah salah satu solusi yang baik. Mohon maaf jika menyinggung. Yang saya pikirkan adalah cukup susah untuk bertoleransi terhadap perbedaan jika kita tidak mengenal. 

Jika kita sekolah di sekolah agama A dari SD hingga kuliah, maka teman-teman,  guru-guru yang kita kenal kebanyakan bergama A. Ketika ada isu berbumbu pedas di mass media tentang agama B, maka kita akan lebih mudah untuk terpengaruh. Yang pertama karena kita tidak tahu dengan agama B. Kemudian, kita tidak punya teman dekat agama B , sehingga tidak ada yang bisa kita tanyakan selain mbah google. Dan yang terakhir, kita mempunyai kesempatan yang lebih terbatas untuk mengenal orang baik dari agama B.
 Seandainya kita punya teman baik dari agama B, tentu kita tidak mudah percaya, karena sudah membuktikannya langsung bahwa teman dekat kita adalah orang baik dan tidak sesuai dengan pemberitaan di mass media. Saya tetap mendukung sekolah agama sepanjang tidak mengajarkan untuk antipati terhadap agama lain, yang saya yakin sebagian besar tidak. Alangkah lebih baik, di sekolah agama juga diajarkan mengenai agama dan budaya lain, misal lewat festival budaya, pentas seni 17 agustus, dll. Para guru juga harus memotivasi peserta didik bergaul seluas-luasnya, lintas sekolah dan agama. Dengan begitu, kita tidak akan tumbuh di dalam tempurung, selalu menoleh ke jendela luar, dan melihat dari dua sisi uang logam. Don't judge, just do the good things

Thank you for reading
Renesie

Kamis, 17 Maret 2016

Karmaku Telah Berbuah

Pernah tidak merasa takdir seolah tidak adil? Ketika hal buruk menimpa kita dan menjadi yang paling salah? Sekelumit gundah gelisah yang kurasa kemarin. Aku tidak akan cerita disini, karna kuyakin menceritakan kisah itu takkan membuatku merasa lebih baik dan juga tidak membawa efek positif padamu. Tapi aku akan menulisnya dari sudut pandang yang berbeda.

Aku hanyalah gadis biasa , yang tidak cukup tegar menghadapi ini semua. Untuk pertama kali dalam belasan tahun terakhir, aku menangis keras di depan umum. Jika kuingat sekarang, aku merasa geli sendiri. Penyesalan menyapaku dari masa lalu, mengejekku dengan cemohannya. Oh penyesalan, mengapa kau tidak bosan-bosannya menghampiriku? Aku marah pada orang itu, pada orang lain, dan pada diriku sendiri. Kemarahan yang membuat segalanya lebih runyam.

Aku tidur dengan nyenyak malam tanpa mimpi.  Bangun tanpa dering alarm di pagi hari dan ajaibnya, merasa jauh lebih baik. Ku melangkah ke dapur, mengambil 2 sendok teh bubuk kopi, dan mulai meracik kopi kesukaanku. Seteguk demi teguk dan aku mulai merasa hal yang berbeda, oh tidak aku membuatnya dengan air es. Pantas saja aneh. Setelah menyelesaikan sarapanku, hatiku terpanggil untuk berdoa lebih pagi dari biasanya. 

Aku mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskan dengan pelahan. Berusaha memusatkan pikiran pada pola nafas.  Nadiku lambat laun berirama lebih teratur dan melambat. Kedamaian datang padaku , terasa begitu dekat seolah duduk di sampingku. Aku merasa lebih legawa dan pasrah. Seketika aku ingat tentang hukum karma, ini terjadi bukan merupakan kebetulan ataupun  akibat yang muncul dengan sendirinya. Tentu juga bukan nasib buruk. Sesuatu terjadi saling bergantungan antara sebab dan akibat. Tidak ada akibat yang mendahului sebab. Karmaku telah berbuah. Mungkin dulu, entah di kehidupan sekarang atau masa silam , aku pernah menabur benih yang tidak baik, merawat benih-benih itu dengan hati yang belum bersih, dan kini buah pahitlah yang harus kupetik.

Oh Guru Agung,
Aku sadar membenci  balik hanya akan menyiksa diriku sendiri, jelas bukan pilihan yang bijak.
Ingatkanlah aku untuk selalu tetap mengikuti ajaranmu, yang senantiasa mengajarkan untuk memadamkan api kebencian dan kemarahan kepada siapapun juga

Oh Tuhanku,
Peluklah aku erat erat dalam kasihmu. Sinarkanlah hatiku dengan cahayamu yang suci dan penuh kedamaian. Bantulah aku ikhlas memakan buah karmaku, tanpa banyak mengeluh. Sadarkanlah aku untuk tetap berbuat baik dan menanam kebajikan seberapa pahit buah yang harus kumakan.

Buah karmaku telang matang, akulah yang harus mencicipi, mengolahnya sendiri dan menghabiskannya. Ia menjadi pahit bukan karena orang lain yang memberinya racun, tapi karena hasil perbuatanku sendiri. Aku sadar musuh terbesar adalah diriku sendiri yang masih menyimpan sedikit rasa benci. Tetapi aku berjanji untuk berusaha dengan keras menghapusnya.  Mungkin aku belum sanggup untuk mendoakanmu bahagia, tapi sungguh aku tidak pernah berharap sesuatu yang buruk terjadi padamu. 

Oh Tuhan,  
Bangunkanlah aku ketika nanti aku mulai lelah untuk bangkit. Ingatkanlah aku untuk selalu bersemangat berubah menjadi
 pribadi yang lebih baik. Aku tak pernah ragu akan kasihMu, ajaran mulia Sang Guru Agung dan kehebatan Alam Semesta.


"Karena tak boleh ada air mata yang tidak menghasikan cipta, sekecil apapun itu", -renesie.

Thank you for reading



Jumat, 29 Januari 2016

NO Title Yet (2)

Dulu,
Waktu itu, 
Saat ego yang berbisik
Kupikir tidak sulit melupakan memori
Sekelumit cerita di ruang waktu
Antara aku dan kamu

Kita dekat, jauh, dekat, jauh
Dan akhirnya benar-benar jauh
Persis layaknya benang kusut
Sungguh rumit untuk berlanjut
 
Terima kasih sudah singgah mewarnai kanvas hidupku
Bahagia, tertawa, suka cita, terkagum-kagum denganmu
Hingga berujung pada suatu hilir
Air mata, penyesalan, kekecewaan, dan perih

Kamu tidak salah
Akupun tidak
Hanya kita tidak bisa menjadi satu
Sudah, hanya itu

11 bulan bukan waktu yang singkat
Hatiku kosong jelata
Rasaku tumpul
Terus memandangi masa lalu
Tanpa senyuman, tanpa tangisan
Diam termenung hampa

Sampai Tuhan datang menolong
Semesta ikut berkicau

Sebuah karya novel
Dua buku non fiksi
Dua orang hebat yang kutemui
Semua terasa amat nikmat
Bersatu bak ramuah terampuh
Menyadarkanku secara utuh

Kebetulan itu ada
Keajaiban begitu nyata
Setidaknya itulah yang kurasa

Akhirnya, 
Ku berhasil menemukan kembali diriku
Kepercayaan diriku yang sempat hilang
Mulai menulis di halaman baru
Tak lagi mengintip halaman yang usang

Bab baru sudah dimulai
Pensilku sudah selesai diraut
Aku sudah siap menjalani
Selamat Datang Masa Depanku!

Ini merupakan kelanjutan tulisanku sebelumnya yang berjudul "No Title Yet" . Di akhir tulisan itu tercantum "to be continued" . Kisah yang bercerita tentang Rina yang berjuang untuk Move ON. Jika  kamu sempat bertanya-tanya, mengapa kelanjutannya begitu lama. Ini lah jawabannya

Thank you for reading
Nessie
Xoxo

Sabtu, 26 Desember 2015

Don't Judge Yourself

"Nessie, kamu punya bakat di bidang art yang sangat tinggi", jelas Ms. Yessica dengan suara yakin. Sontak saja, aku tidak mampu menyembunyikan wajah kagetku mendengar hal yang menurutku mustahil. Mungkin benar kata orang, psikolog yang handal mampu menilai orang dalam hitungan detik, beliau langsung memberiku isyarat untuk mengungkapkan isi pikiranku. Melihat isyarat itu, aku pun dengan cepat menyatakan ketidaksetujuanku , "Bagaimana mungkin Miss, saya tidak bisa menyanyi, menari, bermain musik, ataupun menggambar". Begitulah kira-kira aku mendefinisikan bakat seni, setidaknya orang yang berbakat bisa melakukan salah satunya dengan indah. Sekelumit memori masa kecilku kembali berputar dengan cepat. Aku tidak pernah melakukan satupun dengan indah dan memukau. "Jadi sudah jelas , aku adalah kriteria ekslusi", batinku dalam hati.

Aku dilahirkan sekitar 22 tahun yang lalu, di sebuah kota kecil di pulau dewata, Tabanan Bali, sebelah barat denpasar. Kota yang menurutku ideal untuk menikmati kehidupan yang seimbang,  tidak terlalu bising seperti kota besar, tetapi juga mempunyai akses yang mudah menuju ibu kota provinsi. Beberapa belas tahun yang lalu, kota itu masih sangat asri, pohon-pohon dimana-mana, aku masih bisa mendengar jelas suara kicau burung di pagi hari, dan suara jangkrik ketika senja. Hal yang paling aku rindukan, dulu udaranya sangat nyaman, cukup sejuk untuk menjalani siang yang terik tanpa AC. Masa kecilku nyaris sempurna, kecuali satu hal yang selalu mengusik , aku mempunyai sebuah "Gift" yang membuatku berbeda dari anak-anak yang lain. Sewaktu aku kelas 1 SD, aku berlatih setiap hari di depan cermin berusaha mengucapkan "RRRRRRR". Orang tuaku pun tidak tinggal diam, mamaku memanggilkanku guru private dan menitip pesan untuk melatih vokalku disamping mengajari pelajaran pokok. Ohya, bahkan aku sempat meminum air embun, yang konon bisa membuatku mengucapkan huruf R. Aku menaruh air embun di halaman rumah sebelum tidur, berdoa supaya tidak hujan, dan mengambilnya esok pagi. Tetapi sayang, semua hasilnya nihil, sepertinya "Gift" itu tidak ingin berpisah dariku.

Jika anda pernah mengamati anak-anak TK atau SD dalam bermain, pasti ada 1 pemimpin, beberapa pemberontak, minimal 1 orang terbully, dan sisanya pengikut. Anak yang dibully biasanya memiliki kekurangan fisik, seperti berkulit hitam, bermata sipit, pendek, gagap, dan lain sebagainya. Tentu saja, cadel juga termasuk diantara probelema fisik tersebut. Ejekan merupakan hal lazim yang kuterima sehari-hari, "Hai nessie, coba kamu bilang ular lari lurus", kata mereka. Dengan polosnya aku menirukan "Ulal lali lulus", ucapku tanpa curiga yang sontak membuat mereka tertawa seolah aku adalah lelucon terlucu. Malangnya lagi, bukan hanya teman sepermainan yang menggodaku, orang-orang dewasa, bahkah guruku pun menganggap hal tersebut sebagai "Kelucuan". Sunguh menyedihkan.

Aku tidak pernah menangis ketika diejek,karena aku tahu tak ada gunanya. Jadi aku hanya diam sambil menahan amarah di sekolah. Setiba di rumah, aku akan bercerita tentang hariku di sekolah, dan menyelipkan cerita tentang ejekan itu. Orang tuaku selalu berusaha memberikan dukungan untuk tetap percaya diri. Sebelum aku sering menerima ejekan-ejekan itu, sejatinya aku cukup percaya diri, begitulah mamaku bercerita ketika aku bertanya tentang masa kecilku. Aku selalu angkat tangan pertama ketika diminta bernyanyi, baik di sekolahan, sekolah minggu, maupun acara ulang tahun temanku. Aku hafal hampir semua lagu anak-anak pada jamannya, dan bercita-cita menjadi penyanyi saat aku besar nanti. Aku sering menirukan gaya penyanyi cilik yang kulihat di televisi. Ketika aku selesai bernyanyi, beberapa orang memberi tepuk tangan setengah kasihan, setengah terpaksa, dan sebagain lagi ibu-ibu kasak kusuk mengatakan "iya memang tidak bisa bilang R".

Semakin usiaku bertambah, dengan semakin banyaknya ejekan yang aku terima, rasa percaya diri itu kian luntur, aku enggan untuk tampil di depan umum, apalagi bernyanyi. Aku sadar cita-cita menjadi penyanyi adalah hal yang bodoh, mana mungkin ada penyanyi cadel. Aku memang masih kecil saat itu, tapi aku bisa merasakan kejengkelan ketika diremehkan. Sadar akan keterbatasanku, aku belajar cukup giat untuk menjadi nomor 1 di bidang akademis. Hal yang aku yakinkan, "Mereka tidak akan berani mengejekku lagi", sesedeharna itulah motivasi belajarku saat itu. Motivasi itu tertanam kuat di dalam diriku, sampai-sampai aku tidak ingat jika orang tuaku pernah menyuruhku untuk belajar.

Dengan bantuan doa orang tuaku, dan juga kasih tuhan, aku berhasil menjadi juara 1 saat kelas III SD. Prestasi akademisku relatif stabil hingga lulus SMA. Lama kelamaan aku sudah terbiasa dengan predikat "terpintar", "terbaik", yang membuatku menjadi semakin ambisius. Tak jarang aku mewakili sekolah dalam berbagai kompetisi. Aku cukup senang dengan hasilnya, dan yang penting motivasiku tercapai,  jarang ada yang berani mengejek kecadelanku lagi.

Awalnya orang tuaku sangat bangga dengan pencapaianku. Tetapi lama kelamaan, mereka menyadari sesuatu yang tidak beres, akademis dan non akademisku tumbuh tidak seimbang. Di samping itu, aku juga tumbuh menjadi pribadi yang egois. Mereka mulai khawatir dan merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan non akademisku. Karena bernyanyi sudah tidak mungkin, mereka mencari  guru private les tari bali. Aku tertarik membayangkan aku akan tampil di depan orang banyak lagi, setelah beberapa tahun aku tidak pernah melakukannya. Aku les private dengan 2 orang temanku, guru les datang ke rumah dua kali dalam seminggu. Dia mengajarkanku dasar-dasar tari, seperti agem kanan , agem kiri. Tari bali itu melibatkan hampir seluruh tubuh, semuanya ada aturannya mulai dari kepala, mata, leher, pinggang, bokong, tangan, hingga kaki. Karena tubuhku bukan tipe tubuh yang lentur, aku mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan-gerakan tersebut, belum lagi ketika harus menahan satu pose dalam beberapa menit. Sayangnya dia merupakan tipe guru konvesional yang akan main tangan jika aku berbuat salah. Hari les tari bali kemudian berubah menjadi hari yang paling tidak kusukai. Akhirnya aku bilang ke orang tuaku dan meminta untuk berhenti, dengan alasan "Gurunya galak."

Orang tuaku tidak putus asa, kemudian orang tuaku mencarikanku guru private melukis. Gurunya sangat baik, memotivasi , dan pengertian. Sungguh, aku sangat senang sekali. Dia mengajarkanku cara mewarnai yang baik, dan membuatku mempunyai salah satu karya terbaik di kelas. Teman-temanku terheran-heran dengan perubahan gambarku. Setelah tamat SD, aku berhenti les melukis. Di SMP, karya gambarku kembali seperti semula , "rata-rata". Selama les melukis, guruku selalu mencontohkan gambar dan cara mewarnainya, kemudian aku tinggal meniru. 

Karena aku dibesarkan di kota kecil, aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk belajar bermain musik. Tetapi kecadelanku, kegagalanku belajar melukis dan menari bali sudah cukup membuktikan aku tidak mempunyai bakat seni, titik. Akupun menyerah karena kupikir waktuku hanya akan sia-sia. Selama masa SMP dan SMA, aku hanya fokus di pelajaran sekolah, sempat ingin mencoba belajar membuat puisi tetapi langsung ku urungkan niatku. Seorang cadel tidak mungkin bisa berpuisi dengan baik. Syukurnya, aku mulai bisa beradaptasi dengan kekuranganku, setidaknya aku tidak benci dan kesal ketika teman-teman menggodaiku. Aku hanya tertawa atau kadang menggodai mereka balik. Aku merasa hidupku lebih baik. 

Tibalah momen untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih jurusan kedokteran dengan kemauanku sendiri. Saat ini aku sedang menjalani masa-masa koas. Aku menempuh studi pendidikan dokter di salah satu universitas ternama di Indonesia. Ya, aku bersyukur aku bisa lolos seleksinya yang kata orang cukup ketat. Terkadang jika aku mengingat ejekan "menyakitkan" itu, aku merasa bersyukur. Masih jelas dalam ingatakanku, dulu satu-satunya motivasiku untuk belajar adalah supaya tidak diejek. Aku tidak bisa membayangkan , apa jadinya jika aku tidak mempunyai gift tersebut, bakal semalas apa aku, mungkin aku tidak akan lolos di universitasku sekarang. Hingga kini, aku masih memegang prinsip masa kecilku, tetapi kini aku modifikasi sedikit, "Karena aku berbeda dari mereka, karena tuhan menitipkan sebuah "Gift" padaku, jadi aku harus berusaha lebih keras" . 

Ucapan Ms.Yessica menghadirkan kembali suka duka masa kecilku. Ms. Yessica kemudian menjelaskan bahwa dari hasil test aku memiliki lower conformity , scoreku -20 dari rentang +32 hingga -32. "Nessie, kamu orang yang fleksibel, easygoing, dan toleransimu terhadap perbedaan, ide baru sangat tinggi. Tipe kepribadian ini mempunyai art sense yang tinggi." . Dalam hati, aku berucap, "Bagaimana saya bisa tidak mentoleransi perbedaan, saya saja sudah berbeda dari orang lain". Setelah menarik nafas dengan santai, beliau kembali melanjutkan , "Kreativitas ini perlu diwadahi, perlu kamu gali, supaya bisa meningkatkan energy levelmu." Akupun tidak tahan untuk tidak bercerita bagaimana kegagalanku belajar menari dan melukis. Beliau menanggapi dengan sangat tepat dan to the point, "Kamu tidak suka tari bali karena di tari bali kamu diharuskan untuk mengikuti banyak aturan , menyesuaikan gerakanmu dengan hitungannya, sehingga kamu tidak bisa berkreasi dengan bebas, padahal yang kamu suka adalah berkreasi". Aku mengangguk, tanda setuju terhadap penjelasannya.

Beliau kemudian menanyakan aktivitasku, dan aku menceritakan tentang kehidupan koasku. Iseng-iseng aku juga bercerita tentang side jobku sebagai marketing villa orang tuaku, dan aku mengatakan aku suka membayangkan rumah impinanku, villa yang menurutku sempurna dipikiranku. "Tetapi sayangnya saya tidak bisa menggambar Miss, jadi hanya gambaran di kepala saja.", ujarku sambil setengah bercanda. Di luar dugaan, beliau menanggapinya dengan serius , "Art itu bukan hanya tentang menggambar, bernyanyi,atau bernari. Art itu sesuatu yang lebih kompleks mengenai tentang ide, inovasi , dan kreativitas. Jika kamu tidak bisa menggambar, kamu bisa saja menyewa orang untuk menggambarkan imajinasimu dan kemudian mewujudkannya menjadi proyek yang nyata. Banyak hal yang merupakan art di kehidupan sehari-hari, dari mix and match pakaian sampai menciptakan kreasi kue baru, itu semua bagian dari art" .

Selama ini, dengan bodohnya, aku mengurung diriku di dalam rumah yang sempit tanpa jendela dan tidak mengijinkan diriku pergi ke luar rumah. "Aku tidak bisa bernyanyi, menggambar, dan menari.", itulah hal yang berulang kali aku yakinkan ke alam bawah sadar selama bertahun-tahun. Aku menggeser semua tentang art dari mimpiku. Sunggu, aku merasa malu,  tidak cukup mengerti tentang diri sendiri. Alih-alih berusaha mengembangkan diri, aku malah mengjudge diriku sendiri bahwa aku tidak bisa. Hingga aku menjalani deep conversation di sabtu pagi yang membuka mataku. Pikiranku terlalu sempit dan judgemental tentang "ART". Bahwa pada hakikatnya bakat itu bukan dilahirkan tetapi berkembang melalui sebuah proses yang tidak instan.

Aku pergi beranjak ke suatu cafe yang tak jauh dari situ. Cafe tersebut cukup unik, menawarkan konsep vintage, yang bisa terlihat jelas dari warna temboknya seperti coklat tanah dan lantainya yang memakai ubin koleksi jaman kuno. Saat itu, hanya ada beberapa pengunjung, termasuk aku. Tempat yang pas untuk mencari ketenangan dan inspirasi. Hatiku mendadak gelisah, umurku sudah bukan belasan lagi, aku bukan anak SMA , yang berarti waktuku sudah tidak lama untuk mengexplore diri. "Tidakkah sudah terlambat untuk mengexplore art senseku?", pikiranku itu terlintas di benakku. Seketika langsung aku buang jauh pikiran judgemental itu, oh tidak, aku tidak mau jatuh di lubang yang sama, tidak untuk kedua kalinya.

Aku memesan hot green tea sebagai temanku sore ini. Beberapa kali aku mengecek hpku, tidak ada email yang harus dibalas. Aku berusaha merekam hal seni apa saja yang pernah aku lakukan, sekecil apapun itu. Aku tulis secara acak di kertas yang sudah tidak usang. Beberapa  ide berlompatan di  kepalaku, aku tersenyum sambil meneguk teh yang sudah mulai dingin "Aku tahu harus mulai dari mana." , bisikku dalam hati. Being late is better than never

Cheers,


Nessie

PS : the article is originally written by me. However all pictures are not mine, they are taken from google. 



Sabtu, 05 September 2015

Dokter atau Pengusaha?

Yang mana yang lebih keren? Berjas eksekutif atau berjas putih? Tentu sudah pasti banyak perbedaan jawaban di antara kita dengan argumen masing-masing. Tenang saja, tulisan ini tidak akan membahas yang mana yang lebih keren kok :)
 
Saya peruntukkan tulisan ini bagi adik-adikku pelajar putih abu yang masih bingung mengambil jurusan apa dan juga orang tua yang mungkin berpikir salah satu profesi akan berprospek lebih cerah.

Semua profesi pada dasarnya baik, kesuksesan itu tergantung dari individu yang menjalaninya. Kesuksesan di setiap profesi mempunyai standar yang beda-beda ala profesinya sendiri yang tidak mungkin bisa dibandingkan secara head to head. Kalau kita ambil secara sedeharna, 

Hasil = Nasib/keberuntungan + usaha + passion

Sayangnya ketiga unsur tersebut tidak bisa dimatematikakan secara gamblang, mereka saling mempengaruhi satu sama lain. Ketika kita tidak punya cukup passion, kita bisa saja berusaha dengan sangat baik, tetapi tidak akan pernah memberikan usaha terbaik kita.

Sekarang kita akan fokus di passion antara dunia bisnis dan dunia medis. Mungkinkan orang mempunyai passion di keduanya? Mungkin, tetapi menurut saya pasti ada yang lebih dominan.
Berhubung ini baru selesai stase psikiatri, jadi kita akan bahas dari pendekatan psikiatri (ala ilmu kedokteran jiwa) , sekalian promosi kalau ilmu psikiatri itu luas sekali dan bukan hanya menangani masalah skizofrenia.

Setiap manusia adalah makhluk bio psiko sosia kultural, yang menjadi kesatuan dan saling berinteraksi. Passion kita juga dipengaruhi oleh  kombinasi tersebut, genetik kita, pengalaman masa lalu, lingkungan, hingga bagaimana budaya dan masyarakat menjudge suatu minat dan profesi. Jadi tidak jarang di masyarakat kita melihat fenomena "buah yang tidak jatuh jauh dari pohonnya" . Konon jika kedua orang tuanya dokter, maka anaknya dokter, menantu juga dokter, bahkan iparnya pun juga dokter.  

Dan menurut saya ada perbedaan yang bermakna dari ciri kepribadian seorang dokter dengan pengusaha. Seorang dokter dituntut mengerjakan segala sesuatu  mendekati sempurna, karena nyawalah taruhannya. Pendidikannya sudah membentuk pola pikirnya menjadi seseorang yang teliti, hati-hati, detail oriented, rapi, dan perfeksionis. Pengambilan keputusan dilakukan dengan terstruktur ala dokter dan alasan-alasan ilmiah serta referensi yang valid. Obat baru membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa dijual ke pasaran. 

Hal ini akan membentuk ciri kepribadian anankastik (bukan gangguan kepribadian) yang kurang lebih meliputi kehati-hatian, detail oriented, taat aturan, perfeksionisme, dan ketetikatan pada kebiasaan sosial. 

Lalu bagaimana dengan pengusaha? Kecepatan adalah prioritas, membaca peluang, mempertimbangkan risiko dengan cepat , lalu keputusan langsung diambil. Karena pertimbangan yang lama sama dengan sebuah kegagalan. Tuntutan persaingan yang blak blakan membuat iklim kompetisi menjadi sangat ketat sehingga kadang kala kehati-hatian  dinomorduakan. Tidak mengherankan, jika pengusaha yang sudah sangat sukses, bisa saja bangkrut dalam sekejap. 

Seorang pengusaha tidak hanya cukup kreatif tetapi juga harus adaptable dengan berbagai macam keadaan, dari partner bisnis yang super cerewet, ketus, sampai yang pelit omong.  Jiwa persuasif yang tinggi adalah salah satu kunci keberhasilan seorang pengusaha. Disini salah satu  letak perbedaan yang mendasar dunia medis dan dunia bisnis. Dunia medis ilmiah yang baik tidak akan mempersuasi pendengarnya, tetapi memberikan analisa data sekurat mungkin. 

Pengusaha juga pasti mempunyai banyak karyawan untuk membuat usahanya membesar. Mereka harus percaya dengan bawahannya, karena mereka tahu mereka tidak mampu melakukan semuanya sendiri. Tugas harus didelegasikan. 

Pernah gak sih berpikir orang medis bisa menjadi orang bisnis tetapi orang bisnis tidak bisa menjadi orang medis? Iya ,dulu saya pernah. Seorang pengusaha tidak mesti kuliah bisnis tetapi seorang dokter wajib kuliah kedokteran.
Saya pikir, dengan intelektual yang tinggi dimiliki dokter, manajemen waktu yang biasanya cukup baik (seorang koas bekerja hampir 32 jam) ditambah dengan gemblengan yang cukup keras di bangku kuliah, saya rasa tidak susah seorang dokter juga bisa sukses di dunia bisnis.
Tapi itu dulu,

Sekarang saya berpikir, pengusaha hebat tidak bisa menjadi dokter hebat dan dokter hebat "mungkin" tidak bisa menjadi pengusaha hebat. Karena mereka memiliki kehebatannya masing-masing, pola pikir yang sudah sangat berbeda yang tidak bisa diswitch dengan mudahnya. Hanya orang luar biasa yang bisa melakoni kedua profesi itu dengan sama hebatnya.  

Sering kan melihat bahwa pemegang saham terbesar rumah sakit bukan dokter? Manajemen ekonomi rumah sakit diatur oleh bukan dokter? Mungkin modal dokter kalah dengan pengusaha? NO! Mungkin dokter terlalu sibuk sehingga tidak sempat? May be, tetapi pengusaha dengan puluhan perusahaan juga sibuk. 

Mereka dilahirkan dan dibesarkan di dunia yang berbeda. 

Jadi.....Ikuti kata hati dan passion kalian, karena hanya dengan begitu kita bisa memberikan usaha terbaik kita. Masyarakat mungkin berpikir profesi dokter lebih mulia, tetapi bukankah masih banyak jalan untuk berbuat  baik? Tingginya keegoan dan kebanggan terhadap profesi hanya akan membuat kita tertinggal dari cepatnya perubahan dunia.

Cheers,

Nessie